-->

CERPEN : Aplikasi Percakapan

No comments





        Sekarang Sigit tidak kaku lagi, semenjak menjadi manager di perusahaan besar. Hampir setiap minggu dia menghabiskan harinya di hotel, mulai dari kelas melati sampai ke kelas bintang lima sudah pernah dia singgahi. 

     Bermodal alasan mencari ketenangan jiwa untuk menyelesaikan tumpukan pekerjaan, sekarang berubah menjadi sebuah kebiasaan dirinya. Dia lupa dengan usia yang semakin hari semakin bertambah, dia lupa mencari pasangan hidup untuk kelansungan keturunan. Minggu ini Sigit menginap di hotel bintang lima, kertas – kertas berkas pekerjaan sudah menunggu didalam tas laptop. Tapi ada yang menggelitik ingatannya sore ini, sebuah aplikasi percakapan di telpon genggam yang baru diperkenalkan oleh Dodi. Teman sekantor sigit. Tidak berpikir panjang dia lansung membuka aplikasi itu, dia mulai berselancar sesuai dengan arahan yang pernah diberikan Dodi.
      Membuka satu persatu akun yang ada di aplikasi, akhirnya dia menemukan seseorang yang dia rasa tepat untuk menemaninya tidur di hotel.
“hai “
“hai juga”
“boleh kenalan ?”
“jangan banyak basa basi, berani bayar berapa ?”
      Sigit terkejut bukan kepalang, jantungnya berdetak kencang. Walaupun sering menginap di banyak hotel tapi dia tidak tahu ada aplikasi seperti ini sebelumnya. Dia seperti tidak percaya, tetapi nafsunya semakin menggeliat.
“berapa duit ?” tanya Sigit iseng.
“sekali main 700, kalau sampai pagi 1.200k”
    Kembali jantungnya berdetak tidak karuan, antara nafsu dan takut. Takut karena belum pernah melakukan hubungan intim dengan wanita sebelumnya. Dia lansung menghubungi Dodi dengan telpon genggamnya,“ Gila kamu dod, ini aplikasi serius ?”
“iya lah, coba aja satu dulu “
“Ah, parah kamu. Ini kemahalan”
“Nego aja, mana tau nanti bertemu harga yang cocok. Jangan yang terlalu mahal, nanti kamu rugi. Bayar mahal untuk permainan yang hanya 60 detik” Suara tawa Dodi terdengar dari speaker telpon genggam,
“sembarangan aja kamu 60 detik, kuda ku bukan sembarang kuda”
“gaya mu git, seperti pemain lama aja. Palingan nanti kamu buang – buang duit aja, takutnya kuda mu tak mau bangun dari tidur panjangnya.”Kembali tertawa Dodi seperti mengisaratkan kalau dia tidak percaya dengan kemampuan Sigit bermain wanita.
“oke,  aku coba dulu ya.”Sigit lansung menutup percakapan telpon genggamnya, tangannya gemetar. Dia melihat banyak pemberitahuan dari aplikasi baru telpon genggamnya, dengan jantung yang berdetak kencang dia memberanikan diri membalas percakapan di telpon genggamnya.
“nggak bisa kurang lagi mbak ?”
“ya udah, 600 deh”“400 aja ya”
“maaf mas, aku jual diri. Bukan jual bubur ayam”Sigit sontak terkejut, dia berpikir tak ada harga bubur ayam semahal itu. Tapi jantung masih berdetak kencang, pikirannya berubah menjadi takut. Tapi rasa penasaran ingin mencoba kekuatan kudanya belum juga hilang, akhirnya dia beranikan diri. Dia memberikan nama hotel tempat dia menginap,
“kamar berapa mas”
“kamar 187,”
“di tunggu ya, kita deal 600 ya”
“eh, tapi aku boleh minta foto kamu dulu”
“kamu lihat aku di depan pintu kamar aja nanti”
“oke deh,” Setelah percakapan itu, Sigit seperti orang gelisah. Dia mondar – mandir di kamar hotel, jantungnya berdetak semakin kencang, terdengar bunyi bel pintu kamar.
“maaf bapak, kami dari pihak hotel. Apa benar tv kamar bapak ada masalah?”Sigit menghirup nafas dalam – dalam, dia mengira wanita pesanan sudah datang. Ternyata orang dari pihak hotel yang ingin memperbaiki TV kabel kamarnya yang ada masalah. Setelah beberapa menit, karyawan hotel itu pamit.Perasaan sigit masih belum bisa tenang, dia membaringkan dirinya di tempat tidur. 
     Tak lama dia berdiri dan mondar mandir lagi di kamar, terdengar lagi bel pintu berbunyi. Sigit membuka pintu tapi tidak lansung melihat wanita itu, dia hanya menunduk dan mempersilahkan wanita itu masuk. Detak jantungnya semakin kencang, melihat wanita dengan kulit kuning lansat. Ber baju kaos jengkis dan rok mini duduk di sofa kamar hotelnya
.“mas mau main sekarang?”Mata Sigit menanatap wanita itu, dia tekejut. Dia seperti mengenal wajah wanita itu, tapi Sigit tidak telalu percaya dengan penglihatannya.
“mas ?”
“oh, iya “
“mau lansung main ?”
“duduk santai aja dulu, kita cerita dulu”
“okeh deh, yang jelas waktu saya hanya satu jam”
“okeh, nggak masalah. Asli orang sini ?”
“nggak, aku kerja disini.”
     Percakapan Sigit mengarah ke daerah asal wanita itu, ternyata dugaannya benar. Wanita itu adalah teman lamanya, teman satu sekolah dasar di kampung. Sigit memang sudah lama pindah ke kota karena orang tua pindah dinas, tapi sigit tidak pernah lupa dengan wajah – wajah teman semasa sekolah dasarnya. Karena bagi sigit tempat sekolah dasarnya adalah tempat yang paling berkesan dalam kehidupannya, disana dia mendapat pelajaran yang berharga. 
      Disana juga dia bertemu keluarga – keluarga baru yang memperlakukan keluarga sigit seperti bagian keluarga mereka.Wanita itu tertunduk malu,
“jadi kamu Risma ?”
“iya mas, nama mas siapa. Aku tidak merasa mengenal mas sebelumnya”
“aku sigit, anak bapak camat di tanah kelahiranmu.”
      Wanita itu lansung terdiam, dia hampir tidak mengenal lagi wajah sigit. Karena sudah lebih sepuluh tahun tidak bertemu, mata nya berkaca. Mulutnya gemetar, dia seperti orang yang tertangkap mesum oleh polisi pamong paraja. Tapi sigit mencoba untuk menghiburnya, tidak menghukum pekerjaan Risma.
“sudah berapa lama menjalani pekerjaan ini”
“saya baru satu bulan bekerja ini git.”
“kenapa sampai terjun ke dunia seperti ini”
“awalnya saya juga tidak mau bekerja seperti ini, tapi tuntutan ekonomi memaksaku untuk seperti ini”
“tuntutan ekonomi ?. Kamu sudah menikah ?”
“belum git “
         Wanita itu masih terlihat gugup menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang di berikan sigit, sore itu sigit seperti wartawan yang mewawancarai narasumbernya.
“jadi tuntutan ekonomi seperti apa yang membuatmu kerja ini”
“aku di PHK dari tempat kerja dua bulan yang lalu, kredit mobil, kredit rumah dan hutang orang tua dikampung yang juga menjadi tanggunganku. Adikku baru kuliah semester satu, juga menjadi tanggung jawabku”
“apakah mereka tahu pekerjaanmu sekarang ?”
“tidak, mereka hanya tau aku masih bekerja di tempat lama”
“sudah berapa banyak lelaki yang tidur denganmu “
     Wanita itu menangis, dia berjalan ingin keluar kamar tapi sigit menahan.
“Risma, mau kemana kamu ?”
“maaf git, aku mau pulang”
      Sigit merasa bersalah, jantung yang tadinya berdetak kencang berubah menjadi pelan. Dia berubah menjadi iba, dia tahu betul kehidupan di daerah asal Risma. Sekarang harga komoditi tani di sana sudah turun drastis.
“ibuku sudah sakit – sakitan dari tahun kemaren, aku tidak ingin melihat dia menderita git. Aku ingin skeali membantunya, menghasilkan uang yang banyak dalam rentang waktu yang singkat hanya bekerja seperti ini Git.”
      Wanita itu memeluk Sigit sambil menangis, nafsu dan hasrat ingin berhubungan badan Sigit sirna. Dia berusaha menenangkan Risma, wanita periang yang dia kenal dulu semasa kecil. Ternyata sekarang berdiri di hadapannya sebagai seorang pelacur. Sigit berjalan menuju tas di dalam lemari hotel,
“ini bayaran mu, dan ini kartu nama ku. Besok kalau kau ingin berhenti bekerja ini, datang saja ke alamat kartu nama ini”
“tapi uang ini terlalu banyak git, besok aku akan melamar kerja di kantormu”
       Wanita itu meletakkan uang bayaaran sigit di atas kasur, tapi sigit memaksa untuk mengambil dan membawanya pulang. 
“kalau kau tak mau uang itu, anggap saja aku menolong untuk pengobatan ibumu. Rasa terimakasih kepada ibu yang dulu juga ikut membesarkanku.”
    Setelah mengambil uang itu, Risma berlari keluar kamar dengan menutup mulutnya. Dia menahan lolongan tangisnya di depan sigit.
“semoga saja besok kau datang ke kantor, aku ada pekerjaan untukmu” Risma hanya menoleh sebentar ke arah sigit dan berlalu. 
      Tak lama berselang terdengar bunyi telpon genggam, ternyata itu Dodi.
“bagaiamana Git ?”
“biasa lah, seperti apa yang kau rasakan biasanya.”
    Dodi tertawa, telpon di tutup.Sigit tidak menyangka dunia kota sekejam ini, wanita yang dulu dia kenal wanita baik ternyata bisa berubah menjadi wanita malam. Sebuah aplikasi percakapan baru mengantarkan dia kepada masa kecilnya yang sudah lama dia lupakan.
“semoga saja besok Risma mengantar lamaran kerja ke kantor”  Sigit bicara sendiri, dia menarik tali lampu tidur kamar hotelnya. Remang lampu kota dari kejauhan mengantar Sigit pada tidur yang kesekian kalinya di dunia ini.

Padang, 28 Des 2019

Comments

Size 730x120
Size 336x280
Size 730x120