-->

CERPEN : Kesenian Cinta

No comments


Sore kembali membawa kami kepada percakapan tidak penting, bermula dari percakapan membawa kami kepada perdebatan yang tidak terlalu penting, tapi itulah temanku Al. Dia tidak akan mau kalah kalau berdebat dengan ku, ini sudah berlansung terus menerus semenjak perjumpaan diawal perkuliahan semester satu.

Aku sudah mengenalinya semenjak kami bersama mengurus berkas pendaftaran sebagai mahasiswa undangan. Aku tidak terlalu dalam kenal pribadi Al karena kami tidak satu jurusan, yang aku tahu dia berasal dari daerah ujung timur laut sumatera barat. Sepanjang yang aku ketahui masyarakat disana tercipta dari lingkungan yang masih asri dengan tatanan adat dan budaya.
Hoi, nco !”
Al memegang pundakku, semenjak awal dia memanggilku dengan panggilan “nco”. Katanya panggilan itu adalah pengganti nama kepada sahabat, biar kelihatan akrab.
Dia duduk disebelahku, aku terkejut kenapa dia juga sampai disini. Padahal kami tidak janjian untuk datang ke gedung pusat kegiatan mahasiswa ini, sehabis perkuliahan terakhir tadi aku berangkat sendiri kesini tanpa berbicara niat dan tujuan kepada Al. aku dari awal masuk kampus memang sudah berencana ingin menjadi anggota salah satu unit kegiatan kampus ini, tapi kami tidak pernah membahas perihal ini sebelumnya, aku juga tidak menyangka kalau Al ternyata juga memiliki niat itu sedari duduk di bangku SMA.
Mendaftar unit kegiatan apa nco ?” tanya Al,
Aku masih belum memutuskan “
Kamu terlalu banyak pikir – pikir, terlalu kaku. Cocoknya kamu mendaftar di Badan Eksekutif Mahasiswa saja, kalau di UKM nanti bisa jadi sasaran canda anggota lain "
            Al, memang selalu merasa paling tahu tentang kehidupan di kampus. Dari awal bertemu dia selalu menceritakan kakak nya yang sudah lebih dulu menimba ilmu di kampus ini, kakaknya memang cukup terkenal sebagai aktivis kampus di lingkungan fakultasnya.
Mendaftar jadi anggota unit kegiatan kesenian yuk !” dia mencoba mengajakku untuk mengikuti ke inginannya.
Ah, aku nggak punya bakat seni “
Tak apalah, ini kan unit kegiatan mendidik untuk menjadi. Bukan menerima orang yang sudah jadi”
Kalau aku mendaftar mau ambil bidang apa ?”
Kamu ambil bidang teater aja, bagaiamana?”
Teater,  apa itu ?” aku belum pernah menganal nama itu sebelumnya.
Itu Bahasa kerennya, Bahasa kitanya main Drama. Mendaftar aja dulu, nanti kita kan sama – sama belajar di dalamnya “ dia tertawa kecil seperti mengejekku.
Oh drama, nggak ah aku pemalu”
Itulah alasananya kenapa kamu harus mendaftar di bidang teater ini, agar nanti kamu tidak selalu memikirkan urat malu mu itu”
Al tertawa lepas, mungkin dia merasa bahagia melihatku kebingungan. Aku memberi alasan malu karena enggan mengatakan tidak kepada Al. karena alasanku  selalu di mentalkan olehnya, kami berdua sore itu mengambil kesimpulan mendaftar di unit kegiatan kesenian. Kami mengambil formulir kemeja stand unit kesenian, Al mendadak mempercepat jalannya. Ternyata mata Al memang tajam, dia melihat seorang gadis putih tinggi dengan rambut terurai sedang mengambil formulir pendaftaran di stand unit kegiatan kesenian.
Aku duluan ya, ini awal dari perjuangan nco ”
Aku belum sempat menjawab pernyataannya, dia sudah berdiri di samping gadis yang sedang mendaftar tadi. Dia memang manusia aneh, tapi Al bukan mahasiswa bodoh. Dia memang usil tapi tidak kurang ajar, dia pemalas tapi rajin kalau melihat wanita cantik. Selama dua bulan perkenalan kami aku sering bermenung sendiri ulah mendengar pernyataan – pernyataan yang di ucapkannya dalam setiap cerita santai sambil minum kopi pahit. Memang sengaja kami buat pahit agar lidah belajar untuk tidak mengenal gula, kalau tambah gula berarti bertambah lagi uang pengeluaran harian.
Eh, kak. Ini ada temanku mau kenalan “
Al sudah mulai menjalankan aksinya, dia akan selalu menjual harga diriku kalau sedang mendekati wanita. Itu memang bagian dari siasatnya, karena harus di akui aku memang lebih tampan darinya. Karena katanya untuk perkenalan awal dengan wanita dia akan melihat wajah terlebih dahulu barulah setelah itu menyusul sarat – sarat yang lain seperti baik hati, pintar dan kaya. Dalam kamus cinta yang di pelajarinya, apabila wanita merespon dengan baik berarti dia adalah wanita yang baik dan ramah. Kalau wanita tidak merespon berarti dia sudah memiliki tambatan hati yang diyakini akan menikahinya. Pria ini memang hobi berspekulasi yang tidak penting, tapi dia selalu menyuruhku untuk meyakini kata – katanya.
Dia menyebut nama dan  mengulurkan tangan kearah gadis itu. Gadis itu segera melepaskan genggaman tanganku, sumpah Al memang lelaki bangsat yang aku kenal. Baru kali ini aku merasakan betapa halusya tangan gadis, dia tidak memberi aku waktu lebih untuk merasakannya.
Jangan lama – lama, nanti imajinasimu makin liar” bisiknya.
Aku tertawa kecil, dia memang pria usil. Dia selalu memanfaatkan kelemahanku di setiap momen – momen penting. Tapi kali ini hatiku bergetar hebat, cintaku muncul pada genggaman pertama. Nanti malam aku harus membuat perhitungan dengan al.
Silahkan isi formulirnya Iga, oh ya kamu mendaftarbidang apa?”
Aku rencananya masuk bidang teater”
Cocok, berarti kita sama”
Iya kita sama berarti” aku menyela pembicaan mereka.
Al hanya melihat ke arahku sebentar dan kembali memalingkan mukanya ke paras iga yang sore itu mempesona sekali, raut wajahnya berhasil membuat tulisanku tidak bagus lagi mengisi formulir pendaftaran.aku ingin sekali meengenalnya lebih jauh dan berharap hati dan prilaku seindah wajahnya. Sore itu bunyi perut berhasil dikalahkan oleh gelak tawa iga, membuat keyakinan makin keras menjadi anggota unit kegiatan kesenian.
Melihat wajah wanita ini berhasil membuat rasa lapar berubah menjadi haus. Haus akan keindahan hari – hari yang kelak akan aku habiskan dengannya, aku kali ini sangat terpesona. Pria yang satu ini memang tak pernah tenang melihat aku melamun, dia akan selalu datang dalam lamunan indah yang aku bangun dengan susah payah.
Bagaimana formulirmu, sudah di isi lengakap?”
Sudah, ayo kita pulang. Sudah saatnya kita menghabiskan malam ini dengan pembicaraan yang sedikit eksotis nco”  sambil mengambil formulir dari tanganku.
Al berjalan mengembalikan formulir ke meja pendaftaran, sesampai di depan meja pendaftaran dia berbalik arah dan menghampiriku lagi.
Uang pendaftarannya bos?”
Kalau perihal uang, aku akan selalu menjadi tumpuan al. setiap kali tentang uang aku akan berubah jadi bos baginya, tapi itu bagiku perihal biasa dalam pertemanan. Setelah menyelesaikan semua persyaratan administrasi pendaftarran kami bergegas berjalan pulang ke kosan. Mataharipun kami tengok sudah mulai turun seperti di telan bumi.
***
Sebelum kami diterima menjadi anggota di unit kegiatan ini banyak jalan yang harus ditempuh,sekarang kami sampai ke proses pertama yaitu pra diklat. Acaranya memang diadakan di kampus saja tapi sampai tengah malam kata senior panitia acaranya, pada dasarnya kami semua sadar untuk menjadi anggota aktif di semua unit kegiatan di Pusat kegiatan mahasiswa ini punya ritual tersendiri dan punya proses masing –mansing. Hari ini aku dan al duduk di teras depan gedung dengan pakaian serba hitam, karena syarat dari senior kami seperti itu.
Mata kami selalu menengok ke arah parkiran, dan sesekali ke arah jalan depan gedung PKM. Aku tau apa yang sedang di tunggu Al, tidak akan berbeda dengan penantianku.
“Iga nggak jadi ikut sepertinya” gumam Al dengan raut kecewa.
Aku hanya diam, sengaja kecewa milikku disimpan rapat – rapat agar tidak tercium oleh Al. kami berjalan gontai ke arah meja registrasi ulang, mata Al dengan liar melihat satu persatu nama yang sudah melakukan pendaftaran ulang. Al tersenyum ke arahku, sepertinya dia menemukan kebahagiaan dalam daftar nama peserta yang sudah mendaftar ulang.
Ada nco, nomor tiga’
Apa ?”
“Ah, kau pura –pura nggak tau aja” setelahya Al tertawa ke arahku.
Semua anggota sudah berjalan ke arah ruang sidang, semangat mereka tidak kalah dengan semangat kami setelah melihat nama Iga ada dalam daftar peserta pra diklat calon anggota unit kegiatan kesenian. Aku dan Al duduk di barisan belakang, Al adalah pria yang tidak akan melewatkan moment berharga. Kami duduk di posisi aman untuk melihat wajah Iga, senja ini kami mendapat wejangan dari ketua pelaksana kegiatan.
Malam sudah semakin gelap, tapi mata Al tidak bosan memandang wajah Iga yang seharian ini memang tidak dapat berdusta dengan keindahan parasnya.
Apa kabar semuanya, masih semangat ?” teriak seorang senior yang berdiri di depan,
Semua peserta menjawab dengan semangat, senior itu mulai bercerita tentang pengalamannya selama di organisasi yang kami minati ini. Dia mulai mengajukan tanya jawab dengan beberapa teman – teman peserta.
Sudah punya pacar ?” tanya senior kepada Iga
Sudah” jawab Iga dengan tegas.
“Ah, beruntung sekali Pria itu” sambung senior.
Masa abang nggak tau kalau itu pacarnya Rudi ?” sela seorang senior yang duduk di barisan para senior.
Aku melihat kearah Al, mukanya terlihat sedikit memerah. Aku juga merasakan perasaannya, pria yang berambisi tinggi ini merasa telah kalah sebelum berperang. Perasaan yang sudah dia bangun berapa minggu ini harus runtuh seketika hanya karena ucapan “masa abang nggak tau”,
Imajinasi yang sudah diasuh berminggu – mingu seketika sakit oleh kaliamat pendek itu.
Istirahat malam dimanfaatkan Al untuk menguping pembicaraan para senior, bergegas dia mengahampiriku di teras fakultas ilmu pendidikan.
“Aku gagal nco”
Gagal kenapa ?”
“Iga ternyata pacar abang Rudi”
Apakah infonya sudah pasti
Pasti nco, aku tamat. Aku sudah kalah sebelum berperang”
Aku tertawa, belum pernah aku temukan pria gila ini mengiba. Walaupun dia tergolong mahasiswa yang serba kekurangan tapi sekalipun dia tidak pernah mengiba kepadaku, tapi malam ini dia memang seperti orang yang sudah gagal dalam menjalani kehidupan.
Jangan terlalu menjadi pikiran Al, yang terpenting kita selesaikan dulu proses kita menjadi anggota disini” aku mulai membujuknya.
Ini malam terakhir aku di PKM ini, mulai besok aku tak akan kesini lagi”
Aku tidak menjawab pernyataaannya karena malam itu memang tidak memungkinkan untuk berdebat, apalagi dengan pria yang satu ini. Aku hanya melihat wajahnya sambil menyulut sebatang rokok, ternyata untuk urusan cinta Al bukanlah seorang yang hebat. Dia hanya mengenal cinta yang ada bahagia saja, dia belum tau tentang rasa sakit didalamnya. Sejak malam ini hilanglah rasa banggaku kepada Al, pria yang aku kenal dengan impian tinggi dan semangat perwujudan mimpi tinggi akhirnya kalah oleh seorang gadis yang bernama Iga.
Dia tidak pernah sadar tentang milyaran wanita diciptakan tuhan dengan kecantikan yang berbeda, tergantung dari sisi mana kita menilainya. Aku akui Iga memang cantik parasnya, tapi aku belum mengenal sifatnya. Secantik apapun wanita pasti akan memeiliki sifat buruk dalam dirinya, aku rasa itu juga berlaku untuk Iga.
Setelah malam pradiklat berakhir, aku tidak lagi betemu Al di gedung PKM. Dia benar – benar tidak melanjutkan perjuangannya yang masih tersisa berapa langkah lagi, aku merasa terjebak dalam pilihan Al. setelah memaksaku untuk bergabung dalam bidang teater, dia hilang dan tidak mendampingiku sampai kita sama – sama menjadi anggota di organisasi ini. Aku kihilangan teman berdebat dan bercanda, dia sudah layu sebelum berkembang. Kosan pun berasa sepi semenjak kepindahan Al, tidak ada lagi diskusi tidak penting sampai azan subuh berkumandang. Semoga Al, menemukan Iga baru kelak untuk mendampingi hidupnya.

Padang, 25 Juni 2012

Comments

Size 730x120
Size 336x280
Size 730x120