-->

CERPEN : Lelaki Dingin

No comments


Setelah resepsi pernikahanku, Sam mulai bersikap dingin kepadaku. Berapa kali bertemu dia kelihatan seperti orang yang enggan, tidak seperti biasanya. Pria yang selalu memaksaku untuk bertaruh dalam segala hal, termasuk juga dalam dunia berpacaran. Malam ini adalah pertemuan yang kedua, semenjak resepsi pernikahanku. Aku sengaja datang sendiri, tidak membawa istri pada pertemuan yang kedua ini.

Apa yang akan kita diskusikan malam ini Sam?”
Sam hanya diam. Matanya justru melirik wanita yang sedang mengantar pesanan kemeja pengunjung, mungkin dia tidak mendengar ucapanku. Aku memperhatikan matanya kukuh menyigi setiap gerakan karyawan café itu, aku sedang tidak ingin mengganggu perhatiannya. Aku hanya mengikuti alur dari rencana Sam, sambil sesakali menyeruput kopi yang sudah terhidang di meja. Tiba – tiba Sam menepuk bahuku,
Kau perhatikan gadis itu Jon, apakah kau tidak melihat kebahagian dari raut wajahnya”, dalam bola mata Sam masih terlihat karyawan café itu. Tampak seperti harapan Sam yang sangat ingin berumah tangga, tapi dia belum menemukan pilihan hati yang tepat.
Kalau hati sudah memutuskan itu adalah kebahagian, kenapa tidak kau dekati kebahagiaan itu?”
Sam mengalih posisi duduk dan pandangannya ke langit café, kepala bagian belakang menyentuh sandaran kursi lalu di ikuti oleh kedua tangannya memegang punggung kursi.
Sam tersenyum, dia tidak pandai harus mulai dari mana. Suasana meja kami semakin mencekam, terlihat seperti dua orang yang sedang mencari jalan keluar suatu masalah yang rumit. Padahal ini seharusnya menjadi suatu yang biasa saja, berdiskusi berdua untuk mencari siasat mendekati gadis itu. Demi untuk Sam, Sahabatku yang sedang kosong hati untuk mencintai. Tapi Sam lebih memilih untuk diam saja di bangkunya dan menikmati pemandangan yang membuat dia bahagia itu.
“Melihat saja sudah menjadi kebahagian, apalagi menikahinya”
Sam bergumam, aku memberi beberapa pertanyaan dasar serupa nama, tempat tinggal, dan banyak lagi tentang wanita itu. Sam hanya menggeleng, tidak pernah memberi jawaban. Dia selalu saja begitu, baginya masalah cinta tidak elok diperdebatkan. Cukup di nikmati oleh pribadi yang sedang ingin jatuh cinta. Sama halnya seperti agama, tidak perlu diperdebatkan. Cukup amalkan saja menurut keyakinan.
Sam menggenggam kedua tangannya dan meletakkannya di atas meja, sepertinya dia sudah mulai ingin berdiskusi denganku. Sam bercerita tentang keberangkatannya ke Jakarta esok siang, aku terkejut. Dia dengan sangat cepat mengalihkan pikiran dari wanita tadi, mau tak mau aku hanya mengikuti alur perbincangan ini saja. Dari dulu Sam memang seperti itu tidak akan betah dengan satu bahasan saja, ini yang membuat aku rindu dengan sosok pria bernama Sam.
 Kau pindah ke Jakarta atau sekedar berlibur
Mungkin saja pindah, atau mungkin saja tidak. Karena aku belum sampai disana, yang pasti besok aku berangkat ke Jakarta”
Aku menyimpan kebingungan dalam keseriusan Sam, pertanyaan demi pertanyaan silih berganti menghampiri. Apakah keberangkatan Sam ke Jakarta sangat penting sehingga dia menulis pesan singkat kepadaku dengan huruf kapital, dan Apa hubungannya berangkat ke Jakarta dengan Wanita karyawan cafe ini. Sam Sepertinya sudah mulai gila, kurang teman bercerita mungkin membuat dirinya seperti ini.
 “Ini bagiku penting. Aku ingin kau melihat juga keindahan yang aku rasakan selama aku menyendiri di café ini. Kesendirian mengajarkan aku untuk berbagi Jon, walaupun itu hanya berbagi pandangan”
Aku tak mengerti kehendak Sam, aku hanya manut. Bagiku ini pembicaraan bodoh, tapi mungkin bagi Sam tidak. Aku sadar betapa kesepiannya Sam semenjak aku menikah, biasanya setiap hari. Siang dan malam akan habis kami nikmati berdua, dengan canda, tawa, dan bahagia. Aku teringat beberapa bulan sebelum aku menikah, Sam pernah bercerita tentang hilangnya Tomi dan Geri. Menurutnya pernikahan akan mengurangi rasa persahabatan dan ruang diskusi, mungkin dia benar. Aku sendiri merasakan sekarang betapa terbatasnya waktuku tersedia untuknya, untuk berdiskusi, bercerita dan bermimpi bersama. Mungkin karena itu akhir-akhir ini Sam dingin kepadaku. Seharusnya dia juga sadar kalau sampai waktunya, dia juga harus berada pada posisi kami, harus memikirkan periuk nasi rumah tangga. Sekarang hidup tidak selasai oleh diskusi dan perdebatan saja, hidup ini juga perihal isi perut anak dan istri. Sam harus tahu itu. Tapi aku tak biasa memaksa dia untuk sepenuhnya setuju denganku,
Aku ingin kau menjaga wanita itu untukku, sampai aku kembali pulang.” ucap Sam. Matany a menatap penuh pengharapan. Aku tidak tahu berapa lama tudas ini harus aku lakoni, dan berapa lama Sam berada di jakarta. Hidup ini tidak mungkin aku habiskan untuk sekedar memastikan kalau wanita ini masih sehat, bahagia dan seksi.
 Menjaga keindahan yang terpancar dari wajahnya, keindahan lekuk tubuhnya. Dan juga menjaga pandangan matamu yang nakal itu.” Sam tertawa lepas.
Melihat Sam tertawa lepas sudah cukup  membuat diri ini tenang, dia tampak berubah. Prilaku dingin yang dia perlihatkan dalam beberapa pertemuan belakang ini, sudah membaik. Terlihat sekali wajahnya malam ini bahagia, berbeda jauh dari awal pertemuan kami tadi. Sam sudah kembali seperti sedia kala, dimana tak pernah aku temukan raut kesedihan dalam setiap perjumpaan. Dia pria yang pintar menyimpan kesedihan, dulu.
Aku hanya ingin kau tidak tergoda dengan wanita itu, biarkan aku saja. Karena aku masih punya beberapa minggu lagi waktu untuk tergoda dengan wanita lain.”
Sam membuka resleting tas dan memberiku dua buah tiket penerbangan pulang pergi ke Jakarta. Sudah tertulis nama aku dan istriku, tapi aku tambah bingung. Apa maksud dari tiket pesawat ini.
Kau harus datang, dan aku tidak menerima alasan apapun” dia menyodorkan sebuah undangan pernikahan kepadaku. Aku membuka perlahan undangan itu, setelah membaca nama Samsudin Umar didalamnya aku lansung menjabat tangan Sam dan memeluk tubuhnya. Pria yang suka gonta –ganti pasangan dan pria pencari wanita  sempurna itu akhirnya menemukan pelabuhan hatinya. Malam ini aku sangat bahagia, rasa yang membuat aku bersalah selama ini terasa hilang.
Aku baru tahu ketika bertemu Geri dua hari yang lalu, dia bercerita tentang istriku dan sikap dingin Sam. Ternyata wanita yang aku nikahi adalah mantan kekasih Sam dari bangku sekolah, tapi Sam tidak pernah bercerita itu kepadaku. Awal mengenalkan istriku kepadanya, dia biasa saja,seolah tidak pernah memiliki hubungan sebelumnya. Begitu juga dengan istriku. Sepertinya mereka memang telah melupakan kenangan, seperti pengakuan istriku. Mereka bersepakat untuk mengubur rasa cinta, karena tidak mendapat persetujuan ayah Sam. Ayah Sam adalah Majikan ayah Mertuaku. Dari kecil ayah Sam sudah menganggap mereka berdua bersaudara, Sam tidak pernah bercerita jujur kepadaku sebelumnya. Andai saja dia menceritakan semuanya dari awal, mungkin aku tidak menikahi wanita yang sekarang jadi istriku.Tapi malam ini aku melihat semua itu sudah sirna dari mata Sam, aku melihat sudah ada kebahagiaan baru dari sinar matanya.
“tunggu Sam, aku merasa mengenal nama pengantin wanita ini”
Aku berpikir keras, nama wanita di undangan Sam tidak asing bagiku. Rani Ginita sepertinya bukan nama baru dalam kepala, aku lupa-lupa ingat.
 “Wanita yang dulu sering kau ganggu hobinya di sekolah, coba kau bawa ingatanmu ke masa SMP
Mendengar kata kunci yang diberikan Sam, ingatan sampai pada kenangan masa remaja. Ya, boleh dibilang seperti cinta monyet. Ternyata dia menjadi jodoh sahabatku, dan aku juga akhirnya berjodoh dengan wanita yang pernah dicintai sahabatku. Ah, begitulah rahasia kehidupan. Yang terpenting bagiku sekarang bisa memastikan kalau Sam tidak akan menjadi lelaki dingin lagi di hadapanku, dia sudah kembali menjadi Sam ku yang dulu. Sam yang selalu memberiku teka teki yang tidak penting, dan mengejekku dengan tawanya.
Sudah mau tutup om,”
Suara wanita yang jadi perhatikan kami dari awal pertemuan tadi memaksa kami untuk menyelesaikan pembicaraan ini, aku akan kembali pulang kepangkuan istriku dan Sam mungkin akan memaksa waktu agar berjalan cepat.

Comments

Size 730x120
Size 336x280
Size 730x120