-->

CERPEN : Tekukur Tujuh

No comments


Pertama kali aku mengenalnya di kosan ini. Pria periang dengan segudang cerita lucu membuat aku betah duduk berjam - jam di teras kosan, setiap hari ada saja yang membuat kami tertawa kalau sudah duduk bersamanya. Tekukur tujuh kami menamainya,nama itu kami ambil dari nama jalan dan nomor  rumah yang tidak layak huni kalau diperhatikan dari pintu pagar. Namanya Rian, dia jauh lebih tua dariku. Tapi Rian tidak pernah mempersoalkan tentang usia, dengan anak kecil sekalipun dia selalu usil kalau sedang bersama.
“Untuk apa kamu datang jauh – jauh ke padang? “
“Untuk menuntut ilmu “
“Apa salah ilmu, kenapa harus kamu tuntut ? kepengadilan mana akan kamu tuntut ?”
Dia menyerangku dengan pertanyaan aneh, Rian memang begitu orangnya. Dia sering memutar jawaban dengan alibi, kalau baru mengenalinya banyak orang yang akan kesal  kalau sedang bercerita  dengannya.
“Sudah makan ?”
Aku memanggil  Rian dengan sebutan Abang, karena bagiku itu panggilan kehormatan untuk orang yang lebih tua. Tapi kalau bercerita dengan pria ini kita harus pintar memilah – milah mana yang serius dan mana yang bercanda, kalau kamu mau terjebak dengan ceritanya maka kamu harus siaga dengan stamina berdebat sekitar dua jam lebih. Dia susah untuk berhenti, kalau cerita di sore hari yang bisa membuat mulutnya berhenti hayalah gharin masjid. Kalau aku kuliah pagi maka harus di hindari tidur sekamar dengannya, karena akan berkaitan dengan jumlah jatah libur mata kuliah dalam satu semester.
“Kampungmu dimana ?”
“Aku payakumbuh bang”
“Kota payakumbuh ? atau payakumbuh coret ?”
Aku tidak begitu paham dengan pertanyaan ini, tapi yang aku tangkap kali ini sepertinya Rian serius.
“Saya lima puluh kota bang “ itu nama kabupaten tempat asalku.
“Orang mudiak ?”
Tentu aku menjawab tidak, mudiak adalah istilah untuk orang yang tinggal di sebelah barat kabupaten limapuluh kota, mulai dari kecamatan payakumbuh sampai ke kecamatan suliki gunung omeh. Aku memang tidak berasal dari antaranya, tapi aku juga punya beberapa teman di daerah mudiak ini.
“Pantas vocal O dan huruf T mu tidak begitu kuat ya ?”
“Jadi kalau orang mudiak seperti itu ya bang ?, kampung abang dimana ?”
“Aku, indonesia “
Dia tertawa, di atas kesalku. Aku akrab dengannya baru beberapa minggu ini, awalnya aku malas bergabung bersama anak kos karena aku anak baru. Tapi suasana sore beberapa hari belakang ini memaksa aku duduk santai bersama mereka penghuni tekukur tujuh. Aku kenal sifat Rian sebelumnya dari kakak satu kamar denganku, namanya Eko. Dia sebentar lagi akan diwisuda katanya, tapi beberapa hari ini dia hanya tidur – tiduran di kamar kos. Setiap ku tanya tentang skripsinya dia selalu menjawab sedang revisi, aku hanya mengangguk – angguk saja karena aku belum paham tentang skripsi. Aku baru mengetahui sebatas nama belum pernah kenal dengan cara kerjanya.
Rian membuat aku terkejut, dia lansung saja memanggilku dengan panggilan nco. Aku tahu betul panggilan itu, nco berasal dari kata “konco” yang berarti teman dekat atau teman baik. Panggilan itu memang banyak dipakai di beberapa tempat di daerah lima puluh kota.
“Aku sedang merasakan bunyi perutku maha dahsyat”,
Aku melirik jam dinding di kedai kelontong pak kos, jarum pendeknya sudah hampir di angka enam.
“Tunggu saja sebentar lagi, kalau makan sekarang nanggung. Nanti jam sepuluh atau sebelas malam perutmu berbunyi lagi.”
Aku hanya mengangguk – angguk saja, semenjak kos di kota padang pola hidupku memang berubah pesat. Biasanya di kampung makan tiga sampai empat kali sehari, selama kos makanku  jadi berkurang, dua kali sehari. Pun itu kalau masih tanggal muda, kalau tanggal tua makan nasi sekali dan sisanya di tambal dengan roti atau mie rebus.
“Jangan terlalu sering makan nasi, nanti kolesterolmu tinggi. Sesekali ganjal dengan roti atau kerupuk “
“Nggak kuat bang kalau Cuma roti”
“Itu karena perut belum terbiasa. Tapi untukmu tak apalah sering makan nasi, uang belanja dari kampung cukup”
Dia tertawa, dia tidak  tahu kalau aku datang kepadang hanya dengan modal pas – pasan. Tapi belum saatnya aku cerita sekarang dengannya, apa pedulinya denganku.
“Ayo kemasjid dulu “ kata pak kos menyapa kami,
Rian akan selalu menolak ajakan itu dengan dalih mandi, selalu begitu kala senja tiba. Kalau Rian sudah berbicara tentang mandi, berarti dia akan masuk ke kamar dan mengurung diri sampai jemaah sholat magrib kembali lagi kerumah. Aku juga tidak tahu pasti apa yang dia kerjakan selama waktu sholat magrib berjalan, karena dia hanya sendirian dalam kamar. Doni teman satu kamarnya selalu berada di masjid, selama aku menetap di kosan ini belum pernah aku melihat ada teman atau orang lain yang masuk ke kamarnya selama magrib berlansung.
“Mau kemana nco ?”
Suara itu datang tiba – tiba, ternyata Rian sudah duduk di depan pintu kamarnya. Pakaiannya belum berubah hanya penambahan handuk abu – abu di pundak, itu pertanda dia akan menghabiskan sebatang rokok dulu sebelum menuju kamar mandi.
“Mau ke kampus dulu bang, cari wifi gratis.”
“pergi download video porno ?”
Tawa Rian begitu khas kalau sedang memberi pertanyaan bercanda, aku juga tidak bisa menampik pertanyaannya. Karena memang dalam laptopku banyak tersimpan video porno, walaupun sebenarnya tidak utuh semuanya hasil dari download pribadi. Itu arsip dari beberapa teman yang hobi mengoleksi video, ditambah beberapa dari koleksi pribadiku.
“Aku mau download file untuk tugas kuliah besok pagi”
“Kalau file tugas itu alasan klasik mahasiswa penikmat video, palingan kalau sudah bertemu jaringan internet download file tugas lima menit sisanya nonton youtube berjam – jam dan diselingi dengan media sosial. Biasanya mahasiswa di kampus ini memanfaatkan wifi gratis untuk itu”
Aku tidak memberi jawaban lagi, hanya pamit yang bisa ku ucapkan padanya. Karena memang kebanyakan mahasiswa yang biasanya duduk dikampus dengan laptop  lebih banyak membuka media sosial dari pada menjalankan alasan utamanya. Di pintu gerbang aku bertemu Eko dengan pakaian sholat lengkap, aku hanya menyapa. Karena dia akan lansung mengerti kemana arahku kalau sedang menyandang tas berisi laptop. Satu minggu belakangan ini aku sering keluar malam ke kampus, karena baru kecanduan online. Maklum, pria kampung yang baru sampai kekota dan baru mengerti dengan dunia internet. Tidak lama berselang Rian berada disampingku, dia tidak membawa laptop. Dia tidak memiliki laptop lebih tepatnya, tapi dia banyak tahu cara berselancar di dunia maya.
“Aku akan beritahu tentang mendownload video dengan aman”
Aku tau Rian mulai memberikan angin surga kepadaku, karena dia pria yang jarang sekali salah menebak hobi dan kebiasaan orang lain. Aku juga tidak bisa menampik kalau sebenarnya belum terlalu mahir berselancar di dunia maya, kalau Rian ikut mungkin akan sedikit membantuku untuk mencari beberapa bahan untuk tugas kuliahku.
Setiba di teras kantor jurusan, seperti biasa aku akan mencari colokan api listrik agar nanti batrai laptop tidak menjadi penghalang ketika kami bekerja. Tapi malam ini ada yang berbeda, mata tidak bisa berbohong. Wanita cantik menurut versiku sedang duduk dengan laptopnya, layar laptop memantulkan cahaya remang lampu ke wajahnya, lesung pipi tidak begitu dalam tapi bisa memperindah tata wajahnya. Original tanpa lipstik dan gagang kacamata hitam, aku sering berimajinasi dengan wanita berkacamata. Ada beberapa daya tarik aku rasakan bertambah dengan hiasan mata itu.
Rian pria gila sudah lebih dulu mencuri start, menyapa Wanita itu. Dia dengan gaya santainya mengulurkan tangan ke arah wanita itu, berkenalan nama dan jurusan kuliah. Aku mendengar dengan jelas jurusan kuliahnya, ternya dia masiswa fakultas sebelah. Tapi mulai malam itu jantungku bergetar hebat, melihat wanita putih berkacamata ini.
“Nco, kamu tidak mau kenalan. Nanti kamu merasa rugi kalau tidak menjabat tangan adik ini”
Pria gila ini sudah merusak lamunanku,aku bergegas menghampiri Rian dan mengulurkan tangan. Rian terdiam duduk di sebelah perempuan itu. Rian melerai jabatan tangan kami. Namanya putri, wanita berkulit putih bersih berkaca mata gagang hitam. Senyumnya berlesung pipi,  membuat rasa lapar perutku berubah menjadi rasa lapar di hatiku. Aku merasakan getaran yang hebat malam ini,aku berbisik pada Rian untuk meminta nomor handphone Putri.
“Kalau mau minta nomor handphone lansung saja ke orangnya. Mumpung orangnya masih ada, Putri ini gadis yang ramah dan baik. Dia akan senang hati memberimu, tapi dengan syarat jangan nakal menelpon tengah malam.”
Rian memang pintar, seketika Putri tidak berkutik oleh ucapannya.wanita itu hanya menjawab dengan kata iya, dia membuka layar handphone dan memperlihatkan dua belas angka miliknya. Aku dengan cepat mencatat, dengan hitungan beberapa detik dua belas angka itu sudah dalam pikiranku.
“Lagi cari tugas juga ya ?” basa basiku.
“Jangan basa basi. Kalau iya, kamu mau menolong Putri ?” sela Rian.
Pria ini selalu menyela siasatku. Tapi hebatnya Rian tidak pernah salah bertindak, dia pria gila yang hebat dalam banyak bidang. Termasuk soal mendesak wanita yang baru dikenal, beruntunglah aku malam ini mengajaknya. Teras jurusan malam itu berubah seperti milik kami bertiga, Rian akan bercerita dengan gaya candaannya dan Putri tertawa lepas. Mahasiswa lain yang ikut duduk berjejer di sepanjang teras jurusan sibuk dengan laptopnya masing – masing.
                                                                        ***
Pagi ini aku bangun telat, jam sudah berada di angka tujuh. Aku tergesa mengambil handuk dan berlarian ke arah kamar mandi kos, Rian tersandar di depan pintu kamar mandi nomor tiga. Rian menyindirku. Aku memang sudah telat, karena hari ini jadwal perkuliahan pertamaku jam tujuh. Empat kamar mandi kos penuh, setidaknya butuh waktu sepuluh menit untuk menunggu salah satu pintunya terbuka.
“Sudahlah, santai saja. Jatah libur kan masih ada, ambil saja dulu.”
Rian mulai membujukku, aku hanya membalas dengan senyuman. Rian bukan lah tipekal pria yang suka bermenung kalau sudah ada teman di depannya, beberapa pertanyaan menuju ke arahku. Sepertinya dia belum puas mengintrogasi asal usulku, atau mungkin sekedar basa basi agar cepat terlihat akrab.
“Libur minggu depan kamu pulang kampung ?”
“Ya, nunggu ujian mata kuliah umum usai dulu”
“Aku ikut boleh ?”
Aku hanya mengangguk, aku rasa ide yang bagus juga membawa Rian pulang kampung. Daripada sendirian di atas motor menempuh perjalanan enam jam, kampungku jauh ke arah utara kota padang. Tidak lama pembicaraan kami berlansung, Eko keluar dari pintu kamar mandi nomor tiga. Rian mempersilahkan aku masuk duluan, mungkin karena rokok di mulutnya masih tersisa sekitar tiga centimeter lagi.
lalu kapan saya akan diwisuda, adik kelas sudah lebih dulu. Rasa sesal masih terus begini, teman baik sudah di D.O”
nyanyian grup band the panas dalam, aku mengenal grup band dan lagu ini dari Rian. Dan suara nyanyian ini pasti dari suara Rian, berarti dia di kamar mandi sebelahku.
“Nco ?”
“Hmm”
“Ada sabun?, teryata sabunku habis”
“Untuk badan saja ya “ mendengar perkataanku Rian tertawa, dia paham betul kemana arah perkataan itu. Dia bersiul – siul  dan sesekali memberiku pertanyaan lelucon.
Aku keluar lebih dulu, lansung membuka pintu kamar mandi dan berjalan ke arah kamar, aku tidak mendengar dia menjawab. Terdengar dentungan pintu keras sekali, seperti maling yang sedang mendobrak pintu.
“Tolong, siapa saja diluar. Tolong buka gagang gembok pintu kamar mandi nomor dua”
Suara itu terdengar dari dalam, aku bergegas melepaskan gagang gembok pintu kamar mandi itu. Keluarlah pria besar dan hitam dengan balutan handuk sepinggang, ternyata itu Alfian.
 “Kerjaan siapa ini.” Wajah Alfian terlihat kesal, aku hanya tertawa kecil. Aku tahu ini pasti kerjaan Rian, hanya dia pria usil yang tinggal dengan kami di kos ini. Terdengar tawa Rian dari depan pintu kamar mandinya.
“Makanya, kalau mandi itu jangan lama – lama “ Rian bersandar di depan pintu kamar mandinya.
Alfian membawa raut wajah kesalnya berjalan ke arah kamar. Aku mengikuti Alfian, pagi di kos akan selalu begini kecuali ketika libur kampus. Pagi akan di hiasi dengan pria – pria yang berjalan dengan handuk sepinggang dan tentengan ember kecil di tangan.
“Kamu tidak jadi masuk kuliah ?”
“Sudah telat bang, “
“Duduk dulu sini. Nikmati sebatang rokok dan teguklah dulu kopi ku ini”
Aku duduk disamping Rian di beranda depan kos. Kami mulai melanjutkan cerita malam tadi yang terputus, kami bercerita tentang Putri dan kecantikannya. Aku tersipu malu, tapi Rian sangat pintar memaksaku untuk bercerita tentang keinginanku untuk membuat Putri bersedia menjadi pacarku. Tegukan kopi pagi ini berhasil menipu  bunyi perut, kami sudah hampir menghabiskan sebungkus rokok mild berdua. Cerita Rian tidak pernah habis, ada saja celah yang dia dapat untuk membuat hari – hari bermakna.
“Kapan abang wisuda”
 aku mulai mengambil alih jalannya cerita.
“Bagi ku pertanyaan itu sama dengan bertanya kapan mau mati”
 Dia tertawa, dia menjelaskan beberapa yang belum aku ketahui.
“Susah untuk menjelaskan kepadamu nco, beberapa tahun lagi kau akan berada diposisiku. Duduk berdiam diri berjam – jam di depan kantor jurusan menunggu dosen pembimbing, ketika bertemu dosennya disuruh perbaikanlah, besok sajalah, dan sebagainya. Ini adalah kegiatan yang membosankan menurutku,hari ini tulisan seperti ini salah tapi minggu depan kembali lagi ke tulisan yang salah tadi. Pemborosan waktu, makanya aku lebih suka cari hari yang tepat dulu.”
“Hari yang tepat untuk apa bang ? untuk di D.O”
 aku menyela pembicaraan Rian.
“Semoga tidak sampai ke kesitu, biar lambat asal selamat. Aku masih berkeyakinan. Gelar sarjana bisa aku capai demi pelunas hutang kepada kedua orang tua ku, aku juga sering bermenung ketika magrib membayangkan gelak tawa kedua orang tua yang sumbringah melihat anaknya memakai toga hitam. Dia tidak akan tau betapa susahnya hidup setelah memakai toga itu, tapi yang jelas hutang kepada orang tua harus aku bayar lunas dulu.”
Aku sudah bertemu Rian yang sebenarnya, ternyata bercerita serius dengannya banyak juga pituah dan nasihat yang bisa diambil. Dia bukan hanya konyol, tapi pintar. Berbicara serius seperti motivator di acara motivasi jiwa, dia berbicara seperti aktivis MLM.  Meyakinkan saya bahwa kita harus berbakti kepada orang tua, Baru berbakti kepada lingkungan sosial. Hari ini aku merasa di nasehati oleh seorang kakak, pria yang selama ini aku anggap biasa saja dalam memberi motivasi ternyata lebih hebat dari motivator yang di bayar mahal.
“Kamu enak nco, hidup di padang serba berkecukupan. Uang jajan bulanan datang tepat waktu, dibelikan motor. Dapat jatah laptop dan fasilitas lainnya, “
Aku tertegun mendengar ucapannya, tapi belum waktunya bercerita tentang kesusahan orang tua membiayai kuliah. Cukup aku memperlihatkan kelak kepadanya bagaimana kehidupan di kampungku. Bagaimana susahnya ayah mengumpulkan uang untuk nafkah keluarga, berangkat gelap pulang gelap. Tak jarang pula ayah bermalam di ladang, pulang satu kali dalam tiga hari.
“Kita punya perjuangan hidup masing – masing bang, biarlah abang lihat sendiri nanti kalau abang jadi ikut ke kampung”
Dia tertawa, tangannya sampai di pundakku. Dia mengatakan perjuangan untuk dinikmati karena kamu tidak akan bertemu hari esok, yang kamu dapati hanya lah hari ini dan kenang pelajaran hidup dihari kemaren.
“ Jadi kapan aku di ajak ke kampung ?”
Rian kelihatan tidak sabar ingin menjejakkan kaki di kampungku, dalam perbincangan siang ini dia bertanya banyak tentang kampungku. Mulai dari pengahasilan utama masyarakat sampai tempat wisata yang bisa di kunjungi, aku hanya menjawab nanti kita diskusikan di kampung saja.
“Aku berangkat kuliah dulu bang,”
“Jangan lupa berdoa”
Dia tertawa, aku bergegas menaiki sepeda motor dan berlalu minggalkan Rian.
Padang, 15 Februari 2012

Comments

Size 730x120
Size 336x280
Size 730x120