-->

Ajaran Ayah

No comments


 

            Belum lama sebuah sepeda motor melewati pos pemuda, aku melihat mulut Leman bergumam kecil. Aku sudah bisa menerka maksud gumam dari mulut Leman. Alis sebelah kiri matanya naik sambil menjuling ke arah sepeda motor tadi berlalu. Leman mulai memaksa untuk bercerita tentang siapa teman berboncengan gadis tadi, secara lahiriah aku mencoba untuk bersikap biasa saja. Aku menjawab entah, tapi Leman tetap bekukuh kalau aku harus tahu dan kenal. Agar cerita senja ini menjadi serius, katanya.

            Sungguh aku tidak kenal teman berboncengan gadis itu, wajahnya sudah lama tidak datang lagi dalam bayang mataku. Sebenarnya, ini sangat tidak menarik lagi untuk aku ceritakan. Bukan Leman namanya kalau tidak bisa memaksa aku untuk bercerita. Posisi pikiran menjadi senjang, disatu sisi aku butuh Leman senja ini. Disisi lain, cerita itu akan menjemput duka lama untuk kembali pulang ke badan diri. “ Kau mulai saja dari apa yang kamu ingat, aku akan menjadi pendengar yang setia,” begitu rayu Leman.

            Mungkin Leman tahu, tapi tidak seutuhnya. Leman satu – satunya pria yang setia mendengar ceritaku. Sedari dulu, sedari usia kami mulai mengenal indahnya ciptaan tuhan. Hari ini juga menjadi kepulang Leman yang terakhir dari tanah rantau. Dia telah menjatuhkan pilihan untuk menetap di kampung dan mempersunting seorang gadis desa pujaan, tidak hanya alasan itu. Seiring dengan niat untuk merawat ayahnya yang sudah sering sakit akhir-akhir ini. Sedikit berbeda dengan kepulanganku tahun kemaren, aku datang dan menemukan kemalangan. Kasih yang sudah bertahun aku bina, akhirnya binasa.

“Kalau tidak jadi, kenapa kau harus pulang”

“Aku juga tidak akan pulang kalau tahu akan seperti ini”

“Loh?”

Leman sepertinya terheran, aku tidak lagi menatap wajahnya. Pandanganku digoda sawah yang sedang disirami sinar matahari yang akan terbenam. Leman masih mencoba merayuku untuk mencari akar masalah yang tak ingin lagi aku temui. Sulit memang untuk berpura – pura lupa kepada kenangan, apalagi potongan keindahnya. Mulai dari masa SMA sampai pada surat – surat cinta yang datang ke tanah rantau. Semakin aku kubur, semakin dia bongkar. Dari nada bicara Leman sepertinya dia penasaran dengan sebab kemalangan kisahku, aku sebenarnya tidak ingin mengingat sebab yang bagiku sangat sederhana itu.

Awalnya berjalan seperti biasa saja, wajah gadis itu terlihat bahagia dengan kepulanganku. Sesuai rencana yang sudah kami sepakati dalam rentetan surat, aku pulang dan berniat menetap di kampung bersamanya. Malam ketiga sejak kepulanganku, semua berubah. Bayangan bahagia ternyata dibunuh oleh gadis yang memberi kebahagiaan. Aku terlambat menjemputnya malam itu, kami berencana ingin menikmati angin malam. Memang keterlambatan yang ketiga kali sejak kepulanganku. Dia memvonis kelakuanku tidak bisa di maafkan, biasanya orang yang tidak menepati janji tidak patut dijadikan imam. entah dari mana teori itu dia dapatkan.

“Kenapa tidak kau gampar saja mulut yang berteori sembarangan itu” Leman terlihat panas, ketika aku menatap wajahnya dia menakurkan wajahnya. Mungkin dia ingat dengan janji diawal, tidak boleh emosi mendengar cerita dariku. Aku berusaha melanjutkan, walau sakit semakin terasa dalam diri. Sebenarnya ingin sekali aku menampar mulut gadis itu, tapi teringat pesan ayah. Anggap semua wanita itu seperti ibumu, karena mengasari wanita sama saja mengasari ibumu. Aku hanya tidak ingin menodai ajaran ayah.

“Kau pria yang tegar, persis seperti ayahmu,” Leman seperti memberiku semangat. Dia tidak akan tega melihatku bersedih, dia tahu betul cara membuatku tenang. Segera memutar cerita, mengingat ajaran ayahku.

“kalau kau percaya dirimu adalah pria baik, percayalah. Wanita baik akan menjadi pendamping hidupmu.” Leman menirukan gaya bicara ayahku. Terdengar seperti lelucon, tapi kalau keluar dari mulut Leman akan berubah menjadi semangat membara. Dia pria dengan retorika yang mumpuni, pintar mencari celah ketika lawan bicara sedang merasa jatuh. Dia sepertinya sangat paham dengan keseharianku, selalu berpegang teguh dengan petuah ayah.

Leman menuangkan sisa air kopi dari gelasnya, memintaku untuk menikmati setiap tegukan. Satu tegukan untuk ketenangan jiwa, tegukan berikutnya untuk pelepas dahaga. Dia selalu memberi makna dalam tegukan kopi. Aku sadar tidak ada kopi dari biji manapun yang bisa merubah jiwa, tapi dengan keterampilan bahasa Leman akan merubah suasana hati. Baginya wanita tidak perlu diperjuangkan, karena akan menguras tenaga untuk memperjuangkan sesuatu yang bisa dipilih. Perjuangkanlah sesuatu yang sudah tidak ada pilihan lain.

“jadi kau tak kenal pria yang memboncengi gadismu tadi?”. Aku hanya menggeleng, sepertinya Leman ingin mengungkap sesuatu yang belum aku ketahui. Dia hening sejenak, tentu saja itu akan menjadi rasa penasaran yang sangat besar. Leman tertawa melihat wajahku yang menunggu, lebih tepatnya seperti berharap mendapat kabar baik.

“Pria itu adalah Sapril,”

Leman tertawa, tapi bagiku sungguh itu tidak lucu. Tak bisaku baca maksud Leman, aku sedang tidak ingin mencemburui siapa-siapa. Apalagi Sapril, adik kandung Leman. Dia memperbaiki posisi duduknya, sementara aku masih terdiam dengan bingung yang menggerogoti kepala. Berapa minggu belakangan ini Sapril memang dekat dengan gadisku itu, aku hanya menduga dari sepeda motornya. Karena setiap aku melihat gadis itu berboncengan, selalu dengan sepeda motor tadi.

“kenapa harus Sapril?” aku mulai dilanda penasaran, kenapa tidak pria lain. Aku yakin betul kalau gadis itu tahu dengan persahabatan kami, apa maksudnya mendekati Sapril. Apakah dia tidak puas hanya menghancurkan hati dan harapanku, masih adakah niat untuk menghancurkan persahabat kami. Aku tidak habis pikir dengannya, apakah dia ingin membunuh seluruh jiwaku. Melihat Leman yang tertawa terpingkal-pingkal membuat hatiku makin gelisah, kali ini aku tidak bisa membaca maksud tawa Leman. Tidak pernah aku melihatnya tertawa selepas ini, atau mungkin dia sudah sangat bahagia melihat aku kebingungan. Tapi itu tidak mungkin. Pengujung tawa aneh leman terdengar sebuah pesan,

“Akan ada kabar baik dari Sapril, malam ini segera kau temui dia,”

Leman mengusap bahuku. Sambil menggaruk kepala aku hanya mengangguk, untuk rasa penasaran. Kali ini ajaran ayah agar tidak terlihat berharap dengan sesuatu yang belum pasti, sudah tidak bisa aku amalkan. Sekuat aku mengusir, sekuat itu pula rasa penasaran itu memeluk. Semoga saja memang kabar baik yang aku temui malam ini, Sapril adalah harapan kebaikan jiwa ini.

  

Padang, 2020


Comments

Size 730x120
Size 336x280
Size 730x120