-->

Bayang Rantau

2 comments



            Matahari sudah mendekat ke barat, kalau sudah gelap berarti dia sudah sembunyi pada sisi barat kampung. Dahulu begitu pikirku. Aku dan juga teman – teman menenteng kantong plastik berisi nasi, lengkap dengan lauk di dalamnya. Kami berlari dipenurunan tanah, tidak terlalu terjal. Tapi cukup untuk membuat betis penat. Sampai di bawah kami akan lansuang bertemu dengan bibir sungai, daratan yang berbatu-batu sebagai tepian tepatnya. Kami tidak akan berlama – lama disana, menaruh bekal diatas batu dan  membuka habis pakaian dibadan. Tanpa sehelai benang yang melekat di badan, kami akan berhamburan ke dalam sungai. Sungai batang kapur, sungai yang membelah antara perkampungan dengan sawah dan ladang.

            Jika badan sudah mendingin, bergegas ketepian mengambil kantong plastik. Membuka lilitan telinga plastik, entah mengapa nasi yang dimakan setelah berenang disungai terasa enak ketika itu. Setelah makan, kami akan memutar batu kecil dikeliling pusar. Katanya untuk ritual, agar perutmu terhindar dari sakit banai. Setelah ritual usai, batu kecil tadi harus dilempar kembali ke sungai. Barulah melanjutkan berhanyut – hanyut menuju Lubuk Kuok, Lubuk yang paling dalam. Memanjat ke tebing batu hampar, tenjun dan berenang lagi ketepian. Kegiatan yang tidak membosankan, walaupun setiap sore hanya berjumpa pengulangan dari sore sebelumnya.

            “Kau selalu ingat masa lalu” awal Leman membuka pembicaraan. Sore ini, anak mandi. Berenang, berhanyut –hanyut ke hilir membayang jelas di mataku. banyak yang berubah dari sungai Batang Kapur ini, tepian mandi yang sudah berpindah ke hilir. Kincir air pak Leba masih berdiri, tapi tidak berguna lagi. air yang naik dari kincir, sudah tidak lagi mengalir kesawah. Tabung yang tebuaat dari bambu, sudah tidak tampak lagi melekat di sayap-sayap kincir. Leman menceritakan tentang sawah di seberang sungai yang sudah tidak di garap lagi, tradisi bertahun disawah sudah tidak berlajan seperti sedia kala.

“Sekarang beras dapat dibeli, tidak perlu menanam lagi”

Leman menambahkan. Aku merantau lebih kurang sekitar tujuh tahun, sudah jarang pulang. Kalau pulang kampung pun sudah tidak sempat lagi menjenguk kenangan di tepian sungai. Sore ini, entah rindu seperti apa yang menghasutku untuk datang. Dan kebetulan sekali bertemu Leman, teman sepermainan. Dia sedang bermenung di batu hampar dengan joran pancing, awalnya dia terkejut melihat kedatanganku.

Cerita masa kecil membuat kami bergairah sekali, matahari mengintip dari balik pohon beringin di seberang sungai. Leman menyela juga dengan cerita tanah rantau, menanyakan tentang perantauanku. Menurutnya hidup dikota itu enak, semua serba ada. Setiap dia berkata begitu, setiap itu pula aku menentang. Bagiku merantau hanya keterpaksaan, bukan seperti anggapan Leman, kalau saja dulu aku punya tanah pusaka kaum yang banyak tentu aku lebih memilih menggarap tanah di kampung.

“Bagiku merantau juga tentang pembuktian, bukti bahwa aku juga lelaki minang yang disebut dalam pituah adat. Kerantau badan dahulu,  dikampung berguna belum.”

Leman membuat pernyataan seolah merantau itu perkara mudah. Aku hanya membalas dengan melempar senyum. Dia mulai bercerita tentang buruknya kehidupan dikampung, parewa seperti dirinya selalu menjadi bahan sindiran tetua kampung. Aku tidak mau menceritakan sakitnya hidup di rantau, karena takut akan membuatnya tidak percaya lagi dengan pituah adat. Setiap perantau akan selalu membawa kabar baik pulang ke kampung, sangat jarang diantara mereka yang berkabar susah. Karena hanya kabar baik yang pantas di himbaukan, sementara kabar buruk di anggap aib. Untuk apa menyebarkan kepada orang banyak.

***

Malam belum terlalu pekat, lepau akan ramai. Orang-orang menghabiskan malam dengan sekedar main domino, atau bermain  koa. Canda gurau di lepau sampai tengah malam selalu menjadi kerinduan mendalam, jarang sekali bertemu dengan suasana semacam ini di kota. Sibuk dengan pekerjaan,  membuat malam–malamku di kota sepi.

            Dari kejauhan aku melihat Leman samar, dia berjalan menuju ke lepau ini. Dapat diterka dari gaya berjalannya, seperti menempuh lebuh timpang. Ketika cahaya lampu sudah memenuhi wajahnya, tampak dengan jelas kening tinggi bermandi peluh. Dia duduk sambil memegang ujung lututku, dan mengatur jalan napasnya. Leman mengajakku bermain koa, aku menggeleng. Karena menganggap itu hanya basa-basi saja, setahuku Leman tidak bisa bermain koa. Entah mungkin sekarang, karena tidak ada hiburan malam. Pilihan ke lepau menjadi satu-satunya hiburan terbaik menghabiskan malam kalau dikampung, apalagi untuk Leman. Sampai sekarang dia belum memiliki tambatan hati, yang bisa dikunjungi malam hari.

            Tangan leman mulai mengambil bungkus rokok milikku diatas meja, dia mengutip satu batang dari dalamnya. Menyulut dengan korek api miliknya, kepulan asap menutup sebagian wajah. Setelah menghirup asap beberapa kali, dia juga berbasa-basi kepada teman yang lain. Pergaulan seperti ini bagiku sudah biasa, kalau sudah terletak di atas meja itu menjadi milik bersama.

“Ayo ambil, entah dimusim kapan kita akan mencoba rokok perantau ini lagi” Leman sama sekali tidak melihat wajahku, dia hanya memunggung. Pertemanan seperti ini yang tidak aku temukan di kota, keakraban yang tidak memperhatikan hati nurani. Mereka tidak menaruh curiga sedikitpun, walaupun aku orang baru bagi mereka di lepau ini.

“Jadi bagaimana, sudah kau putuskan” Leman memutar posisi duduknya, wajahnya terlihat penuh harapan. Aku belum bisa memberi kepastian, rasa takut masih menghampiri. Sesekali rasa iba datang ketika menengok wajah Leman. Bagaimana caraku mengajak Leman ikut merantau, sementara kehidupanku dirantau masaih jauh dari kata elok. Aku masih bekerja pada majikan, gaji yang dapat hanya bisa mencukupi diri sendiri. Kalau Leman aku bawa ke rantau, setidaknya dia akan menumpang hidup dulu sampai waktu yang tidak bisa dipastikan.

“Apa yang ada dalam kepalamu ketika mendengar kata merantau”

“Pergi jauh dari kampung, bekerja, kalau mujur kaya. Kalau malang pulang kosong”

Leman seperti tidak ada beban menjawab pertanyaan dariku. Bagiku merantau tidak semudah itu, mungkin dia memang belum mengerti sepenuhnya. Karena belum pernah merasakan hidup di rantau orang. Leman hanya mengangguk ketika aku suguhkan beberapa kenyataan pahit, karena dia belum tahu dengan lawan yang paling berat di tanah rantau. Bagiku menjadi perantau tidaklah gampang, menahan rindu adalah perihal yang sangat sulit. Kita terpaksa beranjak dari zona nyaman ke posisi yang masih dalam bayangan. Bayangan ketika pertama berangkat ke tanah rantau  pasti tentang kebahagiaan, karena sangat jarang perantau mengkaji sakit sebelum berangkat. Banyak juga yang merantau karena terpaksa, lalu bertemu kemujuran. Tapi tidak sedikit pula mereka yang tersiksa, tidak bisa menikmati hidup. Karena harus memenuhi kebutuhan hidup.

“Kalau kau hanya ingin kaya dan dikenal orang kampung sebagai perantau sukses. Urungkan saja niatmu.”

Aku masih menatap wajah Leman, sepertinya bimbang sudah datang dalam kepalanya. Aku hanya ingin Leman tidak terjebak oleh kabar baik yang datang dari rantau, sementara kabar buruk tidak sekalipun tiba dipendengarannya. Bagiku, Leman tidak perlu merantau untuk meneruskan hidup, cukup berdiam di kampung saja. Leman punya tanah yang luas untuk di garap, tanah pusaka peninggalan keluarga. Kalau untuk memperoleh kekayaan, dia bisa berusaha menggarap  semua tanah yang dia punya.

“Kau butuh banyak pelajaran, bukan pengalaman perantauan”

Leman tampak mengangguk-angguk, entah dia mengerti dengan maksudku. Semoga saja. Aku hanya bisa berharap, esok pagi dia tidak bertanya lagi tentang kelayakan dirinya. Karena tidak ada ilmu yang mempelajari kelayakan seseorang untuk pergi merantau.  Berani menempuh jalan rantau, berarti sudah siap dengan misteri kehidupan. Mujur, kurang mujur, atau celaka. Sebanyak yang bertemu mujur, sebanyak itu pula yang mendapat celaka. Tapi kabar baik akan selalu dibawa pulang, dengan berbagai cara. Untuk ketenangan tanah rantau, juga untuk keluarga yang tertinggal di kampung halaman.


2 comments

Size 730x120
Size 336x280
Size 730x120