-->

CERPEN : Ritual Malam Jumat

No comments



Serupa malam sebelumnya, malam yang selalu berjalan menuju ke tengah. Aku duduk menikmati angin di teras lantai dua kontrakan. Entah itu sekedar merenung dengan sebatang rokok dan secangkir kopi hitam, kadang juga dengan sebuah buku. Aku sudah lupa, sejak kapan kebiasaan semacam itu aku mulai.
Mata akan senantiasa liar, bergerak memperhatikan kegiatan penghuni gang menjelang tengah malam. Banyak hal yang selalu memancing pikiranku, setiap malam sekitar jam sepuluh. Sepasang kekasih akan mengakhiri kebersamaan dengan berciuman, sepertinya mereka adalah pasangan yang romantis. Itu pikirku, untuk menghibur diri yang masih hambar untuk urusan kekasih. Adegan itu selalu menjadi hal yang aku tunggu dari teras, dibawah remang lampu jalan depan rumah nomor delapan.
Ketika jarum jam sudah melewati angka sebelas, ada sebuah bayangan yang membuat bulu kuduk merinding, rumah di seberang jalan kontrakan. Rumahnya bertingkat dua juga, tapi sangat megah bila dibandingkan dengan kontrakanku. Penghuni rumah itu jarang sekali bergaul dengan masyarakat komplek, ibu – ibu di komplek ini selalu bersemangat  bergunjing tentang penghuni rumah mewah itu. Semua perkara kehidupan akan lengkap dalam perbincangan mereka.
Makin lama, bayangan dari jendela itu makin membesar. Hawa tubuhku mulai dingin, darah berdecak dalam dada. Aku membayangkan kalau rumah itu melakukan ritual, tapi kenapa hanya malam jumat. Teringat pesan bapak – bapak di kedai pak Leman tadi, kalau malam jumat mereka akan bubar lebih awal dari biasanya. Banyak ritual yang akan di jalankan di rumah, begitu anjurannya. Aku memang tidak terlalu paham dengan ritual yang mereka maksud, tapi setidaknya untuk saat sekarang aku berkesimpulan mungkin bayangan yang tampak di jendela rumah mewah itu semacam ritual malam jumat. Mata tak mau juga berpaling dari bayangan itu, semakin lama banyangan itu bergerak semakin kencang. Seperti orang sedang berdzikir, kadang bayangan kepala tertunduk, kadang menakur dan juga menengadah.
“Jon, kauu sedang apa”
Suara itu setengah berbisik, tapi cukup untuk membuat aku terperanjat. Setelah sadar dari lamunan, ternyata itu Gigo. Teman satu kamar, dia selalu pulang hampir tengah malam.
“Coba kamu perhatikan jendela kamar rumah mewah itu”
Aku menarik pundaknya, sambil membawa badan Gigo merunduk. Aku takut kalau dia lama berdiri disitu, sosok bayangan itu melihat keberadaan kami.
“Bayangan apa”
“Tunggu sebentar, nanti dia akan muncul lagi”
“Nah, itu. Coba kamu perhatikan. Apakah itu bayangan orang yang sedang ritual, atau jangan – jangan itu bayangan hantu yang sedang berjoget”
Gigo tertawa, aku lansung menutup mulutnya. Aku masih penasaran, tapi rasa takut juga menghampiri ke dalam diri. Pria ini justru menganggap bayangan itu lelucon.
“Berapa orang isi rumah itu”
Gigo sudah mulai berbisik, tentu aku tidak tahu. keseharianku memang sering di kontrakan dan bergaul dengan masyarakat kompek, tapi aku belum pernah bertemu  sekalipun dengan penghuni rumah mewah itu. Aku memandang wajah Gigo, dia tersenyum. Aku berbisik dan bercerita tentang ritual malam jumat, tapi Gigo kelihatan santai. Dia menyulut sebatang rokok dan menyandarkan badannya kedinding rumah. Sungguh tidak ada ketakutan yang aku lihat dari wajahnya, justru senyum kecilnya memberi isarat kalau aku seperti badut lucu.
“Hantu apa yang paling kamu takuti”
Pertanyaan Gigo memancing rasa takutku.
“Banyak, semua hantu mungkin”
“Seperti apa hantu itu”
“Aku belum pernah bertemu, masih sebatas perasaaan saja”
“Apakah hantu itu terlihat”
“Bisa iya, bisa jadi tidak”
“Apakah hantu bisa bersetubuh, seperti  manusia bersetubuh”
Pertenyaan yang aneh, aku belum sampai mendalami ilmu hantu sampai ke sana. Lagi pula selama ini aku sangat menghindari tempat yang gelap, menonton film misteri. Pokoknya segala tentang hantu akan selalu aku hindari, tapi malam ini kenapa aku tiba – tiba memperhatikan bayangan dari jendela kamar itu.
“Kita cerita di dalam saja, sudah tengah malam. Nanti kalau lebih lama hantu bisa ikut kedalam”
Sebelum Gigo selesai bicara aku sudah lebih dulu sampai di dalam rumah, di dalam rumah aku menceritakan semua gerakan bayangan yang aku lihat tadi. Gigo tertawa lepas, aku makin heran.
“Sudah berapa umurmu, pernah lihat bayangan orang bercium atau melihat orang berciuman”
Dia kembali tertawa, pandangannya terlihat seperti mengejekku. Aku memang belum pernah berciuman, melihat orang ciuman baru beberapa minggu ini. Tapi gaya bicara Gigo membuat pikiranku jadi serba salah, awalnya bercerita hantu kenapa harus sampai kepada ciuman. Aku makin penasaran dengan cerita tentang ritual malam jumat, mendengar kata ritual selalu mengingatkan aku kepada sesosok makhluk gaib.
“Kamu sudah dewasa jon, seharusnya kamu sudah tahu makna setiap perkataan. Baik itu yang tersurat, pun itu yang tersirat.”
Gigo memang lebih tua dariku, secara pemikiran dia lebih dewasa. Itu juga menjadi alasanku mengapa betah menahun sekaramar dengannya, walaupun dia selalu meninggalkanku setiap hari sabtu dan minggu. Dia harus pulang kampung, istri dan anaknya menetap di kampung. Kampung halaman Gigo tidak terlalu jauh dari kota ini, dia akan selalu berkata menjemput rindu saat pagi sabtu sudah tiba. Tapi tentang ritual malam jumat masih menjadi tanda tanya besar dalam pikiranku. Gigo selalu mengelak ketika aku tanya maknanya, dia menimpal pertanyaanku dengan pertanyaan lagi.
“Nanti setelah menikah kau akan tahu, semoga kau tidak menjadi pria polos setelah menikah nanti”
Dia menarik selimut, dan memejamkan matanya. Mataku masih belum terpicing, aku membayangkan beberapa adegan dalam bayangan tadi. Cahaya samar yang terlihat seperti dari sinar petromak atau juga sinar lilin, apakah isi rumah itu menjalankan semacam ritual memanggil arwah. Atau bisa jadi itu semacam ritual mencari kekayaan, menjaga lilin dengan membaca beberapa mantra. Mungkin sekarang sudah ada pembaharuan dengan beberapa gerakan agar roh halus yang bertugas tidak bosan. Atau bisa juga tidak ada kaitannya dengan ritual, karena sesekali aku melihat bayangan itu menjadi dua. Apakah keluarga rumah itu tidak harmonis, atau didalam hidup orang tua yang tempramental. Berapa pertanyaan silih berganti datang dalam pikiran, seolah ini sebuah misteri yang harus aku pecahkan malam ini juga Aku membuka telpon pintarku, dan mulai mengetik ritual malam jumat. Tapi celakanya yang aku jumpai hanya ritual – ritual gaib yang membuat bulu kuduk semakin merinding. Mungkin ada baiknya rasa penasaran ini aku bawa tidur, sambil berharap akan menemukan makna ritual malam jumat dalam mimpi malam ini.

Comments

Size 730x120
Size 336x280
Size 730x120