-->

Mertua Suka Burung

No comments



MERTUA SUKA BURUNG

Leman memaksa tubuhnya bertahan dengan bunyi kicau burung yang memekak, sudah tidak ada pilihan lain untuk menghabiskan sore di kampung. Kebiasaannya mengiring anjing menikmati sore sudah tiga hari ini ditinggalkan, sudah dilarang mertua. Dua ekor anjing yang biasanya terkebat di tiang teras, tiba-tiba hilang tiga hari yang lalu. Leman sebenarnya tahu kemana anjing itu pergi, tapi dia tidak berani melawan pada mertuanya. Selain menjadi malas, dia sadar tabiat bermain dengan anjing peliharaan membuat dia lupa anak. Dia juga sering bertengkar dengan istri akhir-akhir ini, semua berawal dari masalah anjing. Mulai dari porsi makan, sampai pada masalah berkurangnya uang belanja keluarga. Istrinya menduga semua itu ulah anjing, karena selalu mendapat perlakuan lebih dari Leman. Sore ini Leman memaksakan diri duduk dengan orang-orang pencinta burung, sambil terus menggendong anaknya.

Imun, teman lama semasa berburu babi. Sekarang sudah menukar hobi memelihara burung. Dari tadi Imun menahan keinginan Leman untuk pulang, sudah banyak alasan yang Leman kemukakan. Tapi Imun tetap bersikukuh menahan Leman, dia berdalih mendengar kicau burung baik untuk pertumbuhan otak anak. Sebenarnya Leman tidak percaya, tapi anaknya sore itu terlihat nyaman mendengar kicau burung. Sangkar burung bergayutan sepanjang los pasar, berbagai jenis burung didalamnya. Imun hanya mengawasi dua buah sangkar miliknya, berisi burung kacer dan pancawarna. Terdengar seperti nama batu akik, pikir Leman. Dia tidak banyak tahu perihal burung, kalau masalah anjing sudah dalam kepala. Imun menerangkan tentang bagusnya kicau burung untuk anak-anak, termasuk seusia anak Leman. Leman tertawa dengan muka yang datar, dia berpikir Imun berlebihan. Dulu ketika mengajak Leman memelihara anjing, lagu Imun juga begitu. Setelah lama memberi pemahaman, ternyata kata-kata Imun masuk akal juga bagi Leman. Dia berpikir ada baiknya memelihara burung, mungkin tidak akan mendapat tentangan dari mertuanya.

Sepertinya perbincangan sore ini membuat Leman kian bersemangat, Imun berteriak meminta setengah gelas kopi di lepau seberang los. Sebelum kopi datang, Leman menghentikan laju motor seorang lelaki yang sedang melintas. Menitip anak untuk dibawa pulang, istrinya akan marah kalau anaknya terlambat mandi sore. Kebetulan sekali, adik istrinya melewati pasar. Dari seberang pasar terlihat Ema pemilik lepau, melihat hilir mudik dengan tentengan kopi. Jari-jarinya terlihat mahir memegang tadah kopi pesanan pelanggan, kulitnya yang kuning lansat membuat warna kopi tampak sangat pekat.

“Pantas saja kau betah setiap sore menghuni sangkar burung disini”

Imun hanya membalas dengan senyum, sementara mata Leman tidak lepas dari sosok Ema. Suara Ema lebih bagus dari kicauan burung Imun, aroma tubuh Ema membuat Leman lupa dengan wajah istri. Imun menepuk pundak Leman sambil tertawa, Mungkin dia mencoba membangunkan Leman. Karena dari seberang los, tampak suami Ema menatap berang kearah duduk mereka. Suami Ema memilin kumis tebalnya, biasanya itu pertanda kalau amarah sedang menghampiri.

“Ternyata kau masih Leman yang dulu”

“Hanya itu yang tersisa dari Leman yang dahulu”

“Selebihnya hanya ketakutan, takut pada istri dan mertua”

“Sayang lebih tepatnya”

“Terserah kau mau anggap apa, yang Jelas Leman tidak sehebat masa bujangan”

Mereka kembali tertawa, sudah tidak tampak lagi Ema duduk didepan lepau. Mungkin suaminya sudah memberang, atau memang Ema tidak tertarik dengan dua sahabat yang sedang mengunjingkannya. Leman mulai bertanya banyak hal tentang burung, Imun tentu menjawab serupa orang yang paling tahu segala setuatu tentang burung. Mungkin Imun berharap Leman juga mengikuti jejaknya, yang meninggalkan anjing. Burung lebih mendatangkan kesejukan, membuat suasana rumah menjadi bahagia. Sangat cocok untuk Leman, agar hari-hari yang dia lalui dirumah menjadi kebahagiaan. Leman sudah mulai  tergoda dengan rayuan Imun, dia bertanya tentang harga pakan dan perawatan. Memang pakan burung tidak sebanding dengan biaya makan anjing, perawatannya hanya mandi dan sesekali membawa ketempat terbuka seperti sore ini. Tidak perlu sabun, karena burung tidak mungkin di hinggapi kutu. Leman berangguk-angguk seperti burung, seolah semua yang dikatakan Imun sudah ditangkap dalam kepalanya.

Timbul rasa ingin memiliki burung pada Leman. Dia menyigi semua burung yang bergayut dalam sangkar, sore ini memang lebih banyak dari biasanya. Bermacam burung yang datang di bawa empunya ke los pasar, Leman mulai menghapal satu-satu nama burung itu. Sambil bertanya kelebihan dan kekurangan kepada Imun, Leman kembali Berangguk-angguk. Leman menawar beberapa burung yang disukai, sayang tidak satupun yang bersedia menjual burung peliharaan mereka. Rasa putus asa sudah hampir mendekati, tapi Imun tidak akan membiarkan itu terjadi. Dia bercerita tentang Ujang juragan burung yang terkenal di kampung sebelah, bisa menuruti kehendak Leman. Sikap Leman selalu terburu-buru, tidak tampak kesabaran dalam ronah wajahnya. Imun hanya bisa berjanji esok hari, karena malam burung tidak berkicau dengan bagus. Dengan rasa penasaran di dada Leman berpamitan pulang, dan akan menjemput janji esok hari ke rumah Imun.

***

Ketika matahari belum sempurna tergelincir, Leman sudah tiba di rumah Imun. Seperti rencana kemaren, Imun bersicepat mengeluarkan sepeda motor dari teras rumahnya. Sepeda motor itu melaju dengan kecepatan tinggi, karena Imun takut Leman akan berubah pikiran. Dia tahu betul tabiat teman yang satu ini, gampang berubah pikiran. Sampai di tepi jalan dekat sebuah batang durian, Imun memarkir sepeda motor. Mereka berjalan menyeberang sungai, airnya tidak dalam. Cukup dengan mengankat kaki celana sampai diatas lutut, tidak  memakan waktu lama untuk sampai keseberang. Mendaki sedikit lereng, dan sampai kepada rumah yang menjadi tujuan mereka. Sepertinya Imun sudah biasa datang kesini, tampak dari gaya Ujang yang menyapa. Sudah kelihatan akrab, Leman  memandang sekeliling halaman rumah itu. Burung berkicau dengan sangat merdu, membuat suasana pikiran Leman tenang. Leman dan imun duduk diberanda rumah Ujang, sambil menunggu Ujang membuat kopi. Leman merasakan ketentraman jiwa, mungkin ini yang membuat Ujang betah tinggal sendirian di sini. Jauh dari keramaian, hawa angin yang masih sejuk. Ditambah kicau burung yang beragam bunyi. Andai saja dirinya yang tinggal disini, tentu akan bertemu ketentraman jiwa, tidak mendengar umpatan istri dan mertua. Begitu pikir Leman. Lamunannya sirna setelah Imun mencolek bagian paha Leman.

“Ada yang bagus pak Ujang?”

“Banyak,”

“Harga Berapa”

“Seribu lima ratus cukuplah”

“Seribu saja ya, Leman ini baru mulai memelihara burung”

“Boleh, tapi ini masih sedikit mentah.”

Leman melongo mendengar pembicaraan Imun dan Ujang, dia tidak banyak mengerti dengan istilah yang mereka pakai. Imun terpaksa memberi penjelasan yang lebih pada Leman, terutama tentang harga. Seribu yang dia bicarakan bukanlah seribu rupiah, tapi satu juta rupiah. Leman terperanjat mendengar harga burung yang sampai jutaan, dia tidak menyangka akan semahal itu. Dia menarik tangan Imun untuk berdiskusi jauh dari Ujang, dari wajah Leman tampak keresahan. karena tidak membawa uang sebanyak itu, tapi dia ingin memelihara burung. Apalagi burung yang di tawar tadi, sangat bagus menurut Leman. Warna bulunya menarik, kicau burung itu juga terdengar merdu. Imun menawarkan pinjaman kepada Leman, seperti sediakala. Mendengar itu Leman sudah mengerti, karena sampai sekarang masih ada cicilan hutang yang berjalan dengan Imun. Tapi itu cicilan hutang dulu, hutang untuk memberli anjing. Sekarang sudah bertambah dengan hutang membeli burung. Bagi leman untuk memuaskan hobi memang harus merogoh kocek yang dalam, karena kebahagiaan tidak sebanding dengan nilai uang yang dikeluarkan. Semoga saja hobi yang dia mulai dari sekarang tidak ditentang lagi oleh keluarga istrinya, begitu harap leman. Mereka kembali pulang dengan menenteng sangkar ayng sudah berisi burung dengan warna bulu mencolok.

                                                              ***

“Burung siapa ini Leman”

“Burung Imun mak, aku pinjam,”

Leman tidak melihat wajah mertuanya, dia hanya asik menyemprot burung. Mertua Leman berlalu ke dapur. Terdengar siul dari mulut Leman yang terbata-bata, seperti hendak menirukan bunyi burung peliharaannya. Siulan Leman berhenti oleh suara pagar rumah, sepertinya ada seseorang yang datang. Tapi leman tidak acuh sedikitpun, karena dia tahu kalau itu adalah bapak mertuanya. Setelah bunyi pagar berhenti, Leman kembali melanjutkan siul. Mulutnya terlihat monyong, ada beberapa nanda yang hilang.

“Brak” terdengar suara keras dari dapur. Seperti suara barang pecah belah yang terjatuh, mungkin juga di lempar. Leman terperanjat, siul dari mulutnya lansung terhenti. Dia mendekat ke arah pintu, sambil menguping pembicaran dari dalam dapur. Nada bicara yang terdengar seperti pertengkaran. Leman terkejut bukan kepalang, ketika ayah mertua datang dengan sebilah parang. Mukanya memerah, seperti orang kerasukan setan. Tidak lama muncul ibu mertuanya dari belakang, menahan parang yang hendak dilayangkan ke sangkar burung Leman.

“Menantu tak tahu diuntung”

“tenang pak,”

Ibu mertua Leman dengan sigap mengambil parang dari tangan suaminya. Semantara leman hanya diam, mencongkong  depan sangakar burung.

“Hobi apalagi yang kau bawa kerumah ini, aku ingin kau bekerja bukan memelihara ternak yang tak berguna seperti ini”. Ibu mertua Leman mencoba menenangkan, mengusap dada suaminya. Sambil membawa suaminya masuk ke rumah, Leman masih saja diam. Selalu begitu setiap mendapat amarah dari bapak mertuanya.

“Aku suka burung Leman pak”

“Kau selalu begitu, dulu kau bilang juga suka dengan anjing Leman”

“Burung Leman berkicau sangat merdu”

“Sama dengan kicau mulutmu, selalu Membela Leman. Jangan – Jangan kau suka pada Lemannya, bukan burungnya”

Suara itu terdengar lantang dari dalam rumah, muka Leman merah padam. Tapi dia tidak akan pernah ikut campur dengan pertengkaran mertuanya, mungkin saja ibu dari istrinya itu menyukai burung. Seperti ketentraman jiwa yang di ceritakan oleh imun kepadanya, mungkin seperti itu yang datang kepada ibu mertuanya. Leman dengan cepat mengambil sangkar burung, menambatkan di tempat duduk belakang sepeda motor. Sepertinya duduk dengan burung di los pasar lebih nyaman dari pada mendengar pertengkaran mertuanya, karena biasanya pertengkaran ini akan melarut-larut dan merembes kepada semua yang tampak dalam rumah. Leman bukan lelaki pengecut, tapi dia hanya sayang kepada istri dan anak-anaknya.


Comments

Size 730x120
Size 336x280
Size 730x120