-->

Cerpen : Mitos Lantai Dua

No comments



Sudah satu jam lebih, aku menatap hujan bertali menghempas kedinding. Lebat seperti tak ingin berhenti, sesekali aku melihat langit kelam. Aku risau bukan karena hujan tak berhenti, tapi karena menolak ajakan Leman. Berkali-kali aku katakan hanya terkurung hujan, tapi Leman masih bersikukuh kalau ini takdir tuhan. menyuruhku mencoba menginap di rumahnya, diskusi panjang lebar sebelum tidur. Alasan apa lagi yang akan aku beri, sudah banyak kilah yang terucap. Aku tidak ada masalah dengan rumah Leman, aku hanya takut tidur di kamarnya. Kalau seandainya dia mau menghabiskan malam diruang tengah bersama, aku tidak akan menolak. Bahkan aku sangat senang ada teman diskusi sebelum tidur, akan ada banyak hal yang menarik untuk dibahas.

“Alasan apa lagi yang ingin kau kemukakan”

Bibirku tergagap-gagap, takut nanti alasanku menyinggung perasaan Leman. Sahabat dan teman diskusi yang hebatku. Pikiranku kosong, kincir-kincir dalam kepala tidak mau berputar mencari alasan. Aku hanya berharap hujan segera reda, dan secepatnya bisa pamit pulang. Rasanya tidak ada alasan yang masuk akal lagi yang bisa aku sampaikan kepada Leman, karena dua hari yang lalu aku sudah terlanjur mengatakan kalau malam setelah itu aku masih terkurung hujan di rumahnya, aku akan menginap.

“Kenapa kau tidak mau menginap di kamarku, apakah kamarku kotor, atau kamarku tidak memberi kenyaman.”

Jujur sebenarnya aku sangat ingin menginap di kamar Leman, kamar yang tertata rapi. Rak buku yang penuh oleh bacaan kesukaan. Angin yang sepoi akan datang dari jauh, tatanan kamar yang tradisional. Dinding kayu yang sejuk, dan juga didukung oleh diskusi-diskusi kecil kami menjelang tidur. Itu yang selalu terbayang dalam kepalaku. Tetapi kenapa harus terletak di lantai dua. Leman selalu mengatakan kalau kamarnya kotor dan tidak memberi nyaman. Seperti kata yang menyindirku, ya. Kamarku memang berbanding terbalik dengan kamar tidur Leman. Buku berserakan, abu rokok di setiap sudut. Belum lagi bantal dan selimut yang sudah bau pesing. Karena belum dicuci semenjak dibeli. Harusnya Leman mafhum dengan keadaan kamarku, karena itu kamar kontrakan. Kalau dia datang ke rumahku yg dikampung, mungkin dia akan menemukan kenyataan lain.

Makin kesini, Leman makin mendesakku. Hujan tak kunjung mengerti dengan pesaraanku, entahlah. Aku terasa terjebak malam ini, kalau saja tadi sore aku sudah pamit pulang bersama Saipul. Mungkin sudah di kontrakan aku sekarang. Sikap Leman malam ini agak berubah dari biasanya, entah apa yang sedang merasukinya sehingga bersikukuh menahanku untuk menginap di rumahnya. Aku sudah menawarkan untuk tidur di ruang tamu saja, tapi lansung dibantahnya. Karena memang di ruang tamu akan ramai kalau sudah lewat tengah malam. Kakaknya yang parewa akan pulang dari lepau bersama teman-teman dan bermalam di rumah Leman. Begitu cerita Leman kepadaku dulu.

“Begini saja, nanti ketika kakakku sudah pulang. Kita pindah ke atas,”

“Kalau kita tidur bersama kakak dan teman-temannya bagaimana?”

“Nanti takutnya kita tidak bisa bercerita panjang lebar. Karena alam kita dengan mereka jauh berbeda.”

Leman tertawa, sementara aku hanya tersenyum sambil terus berpikir agar aku bisa pulang ke rumah kontrakan malam ini juga. Aku tahu, sebenarnya ada curhatan yang akan diutarakan Leman malam ini. Tentang wanita pastinya, karena dia selalu begitu. Tidak bisa jatuh cinta sendiri, harus melibatkan aku. Setidaknya untuk meyakinkan dia kalau wanita yang ia cintai adalah wanita yang cocok untuk dirinya. Juga untuk kami teman-temannya. Dari awal mengenal Leman sampai malam ini, belum sekalipun aku melihat dia bisa memecahkan masalah dalam diri sendirian. Dia akan  melibatkan kami, entah itu aku, saipul atau teman yang lainnya. Berbanding terbalik dengan diriku, yang selalu menyimpan masalah pribadi. Pernah dulu suatu kali Leman memacari wanita yang sudah lama aku cintai, tapi tidak mampu aku ungkapkan kepada siapapun. Termasuk wanita itu. Beberapa bulan setelah itu ternyata dia sudah menjadi pacar Leman, tapi bagiku memang tidak terlalu menjadi persoalan. Karena banyak wanita lain yang jauh lebih baik darinya, walaupun itu hanya sekedar penghibur diri. Buktinya sampai sekarang aku masih sendiri, dan Leman sudah sering gonta-ganti pacar.

Untuk masalah asmara, Leman selalu memilih aku sebagai teman berceritanya. Mungkin karena dia merasa cerita yang di anggap rahasia, tersimpan rapi dalam diriku. Katanya kepada saipul, aku ini pria penurut. Dan dia sangat suka bercerita dengan orang penurut dan jujur sepertiku. Leman melihat jam tangannya, dan kembali merayuku.

“Sudah malam, tak mungkin kau pulang sendirian. Sebentar lagi rombongan parewa kampung akan datang. Mari kita lanjutkan pembicaraan dikamarku.”

Aku tak bisa mengelak lagi kali ini, hanya mengekor Leman dan menaiki tangga ke kamarnya. Perasaanku sudah bercampur aduk, antara senang dan takut. Aku senang kembali ke kamar ini dan menghibur sahabatku. Tapi sekuat rasa senang, sekuat itu rasa takut datang. Ketakutan bukan lah tanpa alasan. Aku takut melanggar pesan petaruh mak.

“Jangan tidur di lantai dua”

Pesan petaruh ini sampai sekarang masih aku jaga. Itulah sebabnya aku selalu mencari alasan ketika Leman mengajak untuk menginap di rumahnya. Alasan yang belum pernah aku sebutkan kepadanya, akhirnya malam ini terpaksa aku ungkapkan.

“Kenapa harus lantai dua”

Sudah dapat ku tebak, pasti pesan petaruh ini akan membuat Leman terheran. Aku hanya melempar senyum kepadanya, aku ragu ingin menceritakan kepadanya lebih lengkap. Karena Leman adalah orang kota, atau lebih tepatnya orang yang lahir dan besar di kota. Mama dan papanya berasal dari kampung, tapi aku tidak percaya kalau meraka akan menceritakan tentang mitor-mitos dari kampung asalnya. Karena orang tua Leman sepertinya sangat sibuk dengan urusan pekerjaan. Barangkali belum sempat menceritakan lebih tepatnya, mungkin bagi mereka itu perihal sepele dan tidak harus diketahui oleh anak-anaknya.

Leman terlihat masih penasaran, tatapan matanya seperti berisyarat sebuah pengaharapan. Mungkin dia sangat berharap aku bercerita sebab yang lengkap , kenapa mak  melarang tidur di lantai dua. Aku berpikir bagaimana supaya sebuah mitos ini bisa dipahami oleh Leman, aku juga tak ingin nanti setelah mendengar penjelasanku Leman menjadi takut. Dengan sangat hati – hati aku merangkai kata sesederhana mungkin, agar tidak timbul lagi pertanyaan aneh setelahnya.

“Bagi keturunan suku kami di kampung, sebuah pantangan untuk tidur di lantai dua rumah. Kalau itu tetap kami lakukan, akan membuat nenek moyang kami sakit. Kalau nenek moyang kami sakit, maka akan mengganggu tidur kami. Mungkin saja menggigau, mimpi buruk, bahkan mungkin berjalan sendiri dan terjun bebas dari lantai dua.”

Leman tertawa tebahak-bahak, dugaanku ternyata benar. Mitos bagi Leman adalah semacam lelucon, cerita bohong yang dikarang oleh orang-orang kampung. Aku mencoba meyakinkan sebisaku, karena memang dulu. Entah ini kebetulan, dari cerita orang tua temanku, menjelang subuh dia mendengar suara bergemuruh keras sekali di tangga  rumah. Seperti orang berlari ramai sekali, ketika dia keluar dari kamar, dia menemukan aku terbaring telanjang dada dekat daun pintu keluar. Waktu itu aku masih sekolah dasar, semenjak kejadian itu aku menghindari tidur di lantai dua. Sampai sekarang mitos itu masih aku anggap nyata, walaupun bagi banyak orang itu adalah sebuah lelucon konyol. Tidak masuk akal. Apa hubungan nenek moyang dengan lantai dua. Sampai sekarang itu tidak bisa aku jawab. Mungkin saja pesan petaruh mak hanya berlaku pada diriku, atau orang-orang tertentu disuku kami. Karena adik dan banyak sepupu lainnya masih berlomba-lomba membuat bangunan rumah bertingkat. Tidak ada satupun dari mereka yang bercerita tentang ketakutan ketika tidur di lantai dua, atau mungkin juga mereka takut untuk menceritakan pengalaman-pengalaman yang di anggap mistik kepada orang banyak.

Melihat Leman terlelap, aku harus memaksa bola mata ini tetap terjaga. Layar komputer lipat ini semoga bisa menemani sampai fajar datang, aku menyulut sebatang rokok. Berpikir untuk menulis mitos ini menjadi sebuah cerita, agar tetap diceritakan turun-temurun sampai kapanpun. Mungkin sampai nenek moyang suku kami tidak merasa sakit lagi, atau mungkin sampai anak, kemenakan dan cucunya sudah tidak lagi mewariskan mitos ini kepada generasi penerus di kaum persukuan kami.

 

Padang.2020


Comments

Size 730x120
Size 336x280
Size 730x120