-->

Toga Tanda Maaf

No comments



Ayah duduk memunggung padaku, sambil mata kami memandang amak sedang menumbuk di lesung. Aku pandang pundak ayah, dia memberi lelah. Kulit yang sudah hampir keriput, sudah mulai lenyai tepatnya. Tanganku beransur memijat pundak ayah, harus aku senangkan pundak ini. Begitu pikirku. Dari pundak ini, pundi – pundi uang datang. Untuk menghidupi keluarga kami. Ayah sepertinya menikmati setiap pijatan tanganku. Sesekali ayah juga mendecis, mungkin aliran darahnya sudah banyak yang beku. Sambil ayah bercerita tenatang masa kanak-kanakku, amak senantiasa melempar senyum ke arah kami.
“Dulu tanganmu belum sekuat ini, tapi dimataku kau masih anak kecil yang harus dituntun.”
Dituntun maksud ayah kurang lebih seperti dibina, ayah kadang juga bergumam padaku. Mungkin dia tidak rela aku tumbuh membesar secepat itu. Pada kulitnya yang lenyai, membayang kenangan masa aku duduk dipundak itu. Ketika suatu malam menonton film layar tancap, kalau tidak salah di helat oleh Dinas Keluarga Berencana. Saking banyaknya penonton yang bersesak, ayah bertahan sekuat tenaga. Menahan tubuhku yang terbilang tambun dimasa itu, sampai sandal yang balu dibelinya untuk hari raya putus terinjak kaki orang lain. Sampai sekarang aku belum bisa mengganti dengan sepasang sendal baru, tapi ada niat untuk membelikan ayah sendal kulit indian yang ternama itu. Tersebut bagus bagi orang seusia ayah.
“Berapa lama lagi sekolahmu dikota?”
Aku tau, sebenarnya ayah sudah khawatir dengan kuliahku. Karena teman yang sama berangkat dari kampung dulunya sudah memajang gambar di dinding rumah, gambar bersama keluarga dengan memakai toga. Atau mungkin saja ayah sedang menimbang-nimbang uang belanja yang akan datang bulan di muka. Pasalnya sekarang ekonomi di kampung sedang morat-marit. Harga hasil tani anjlok. Aku hanya bisa menghibur ayah dengan gambaran terdekat, walaupun sebenarnya aku juga tidak bisa memastikan kapan akan seperti teman-teman yang sama berangkat kuliah kekota denganku. Aku berharap ayah mempercayai, semua cerita yang sedang dalam usahaku sendiri.
“Semoga kau tidak pulang kosong seperti Leman ya nak.”
Amak membubuhkan tanya ayah, wajah amak ku pandang tidak sedang senyum atau bahagia. Seperti rasa yang sama diutarakan, wajah takut lebih terasa kental di mukanya. Aku tak bisa berjanji, karena akan menambah dosa. Mulutku sudah tidak banyak berucap, hanya pijatanku yang semakin kencang. Aku merasa terjebak dalam lingkar mereka, juga tidka menyangka pembicaraan akan sampai kepokok ini.
“Jangan Jadikan Beban, cukup kau usahakan secepatnya. Semoga kau sudah mengerti dengan keadaan keluarga, juga memikirkan kelansungan sekolah adik-adikmu.”
Ayah mengisyaratkan aku masih seperti anak-anak dimatanya. Tak banyak yang bisa aku jawab, karena jawabanku sudah habis dari tahun kemaren. Sudah berapa janji yang aku berikan, belum juga terlunasi sampai sekarang. Amak terlihat masih ingin berbicara, tapi menahan dalam remasan bubuk kopi yang sudah ditumbuk. Sementara ayah sudah memutar-mutar kepalanya, itu pertanda kalau pundaknya sudah terasa lega. Dia menyeruput kopi, dan memutar posisi duduk. Tepat dihapanku, aku tidak biasa di tatap seperti ini. Dari bola mata ayah tampak bayang-bayang diriku sedang memakai toga. Tidak mungkin aku menangis di depannya, karena aku lelaki. Pantang memberi tangis kepada orang tua.
“Berusahalah nak, kesungguhan akan menjadi hasil yang baik”
Kata penutup yang penuh harap dari pandangan ayah. Dari kecil ayah tidak pernah memberi target kepadaku, dia selalu memberi harapan. Sepertinya sekarang ayah sudah mulai bosan dengan gunjingan masyarakat kampung tentang kuliahku, sudah semakin memekak di telinga. Kata amak banyak kabar yang datang dari kota, tentang pendidikanku. Ada yang bercerita kalau aku jarang masuk kuliah, dan lebih kejamnya mereka memberi amak kabar kalau aku sudah tidak tampak lagi di kampus. Mungkin sudah di pecat dari kampus. Aku tahu kabar itu datang dari siapa, tapi tak elok rasanya kalau harus memerangi mereka. Aku hanya membantah amak dengan memberi keyakinan, cukup aku yang tahu tentang diriku. Aku pergi meinggalkan amak, karena matanya sudah berkaca-kaca. Aku tidak akan tahan melihat wajah yang seharusnya aku beri tawa, menjadi gundah.
***
Siang ini, harapan ayah dan amak masih terang dalam ingatanku. Sekarang waktu terakhir perbaikan skripsiku, karena semua hasil penelitian sudah lengkap kurasa. Aku berjalan dengan kecemasan yang teramat kental, tidak pernah jantung berdetak secepat ini. Kuketuk pintu ruangan dosen pembimbing, dan masuk dengan persaan yang bercampur aduk. Ruangan ini seperti sebuah pengadilan yang akan memutuskan masa depanku. Dosen pembimbing menurunkan posisi kaca mata, dan melihat tajam ke wajahku.
“Selesaikan semua berkas – berkas untuk ujian skripsi”
Mendengar kata itu, semangat kembali pada badan. Bahu yang tadi berasa dihimpit beban berat, berangsur pulih. Aku bersicepat menjabat tangan dosen pembimbing dan berjalan dengan kepala tegap menuju keluar kantor jurusan. Aku menghirup udara diluar kantor, wangi sekali terasa. Seluruh kenangan pahit yang pernah kudapat disini, hilang seketika. Segera aku keluarkan telepon genggan dari kantong celana, menyudut di dinding kantor jurusan.
“Ayah, aku akan ujian skripsi”
“Semoga ini kabar yang sebenarnya, tidak seperti tempo hari”
“Ini yang sebenarnya ayah”
“Kalaupun tidak benar, aku sudah ikhlas. Memenuhi semua kebutuhanmu, membayar hutang-hutangku. Kalaupun kamu tidak wisuda, mungkin itu sudah suratan untung diriku.”
Aku menutup pembicaraan pada telpon genggamku. Tak sadar air mata mengalir di pipi. Sampai dalam toilet kampus, aku meraung sekerasnya. Entah dosa seperti apa yang akan malaikat catat untuk diriku. Berasa ingin terbang nyawa di badan, mendengar ayah yang biasanya memberi semangat. Kini berubah ikhlas, mungkin juga sudah putus asa. Mungkinkah aku lebih durhaka dari malin kundang, karena kami sama-sama memberi sakit kepada hati orang tua. Entah maaf seperti apa yang harus aku antarkan pada ayah, mungkin maaf berupa photo bersama keluarga dihari pemindahan tali pada topi togaku.

Comments

Size 730x120
Size 336x280
Size 730x120