-->

CERPEN : Pasar Janda

No comments


 

    Mata wanita itu sepi memandang ke muka Leman, sepi serupa malam ini. Biasanya malam seperti ini, sudah berpeluh di kening wanita itu. Ini malam kamis, harusnya keramaian sudah memekak. Entah itu di bangku dalam warung, pun di bangku luar warung. Biasanya para pemilik ladang sudah saling sikut untuk mendapatkan pekerja, baik pekerja menyiangi ladang atau juga pekerja kasar di ladang. Sesekali Leman mengetuk meja dengan tiga jarinya, berirama seperti sedang menabuh gendang. Sambil bernyanyi dalam hati, menghibur diri sendiri, agar tidak terlalu bingung. Leman jarang sekali bercerita berdua dengan wanita itu, semenjak beberapa hari setelah pernikahan Leman tidak lagi seromantis biasanya. Romantis seperti masa mereka berpacaran, Leman selalu saja membahas segala sesuatu yang bisa mengusir kekosongan.

            Wanita paruh baya terlihat sedang mengupas bawang di meja gerobak warung, dia istri Leman. Dari remang lampu luar warung terlihat seorang pria tambun, bertubuh hitam. Kumis yang tebal seperti memantulkan cahaya lampu ke tubuh istri Leman. Mereka tidak terkejut, karena Bujang memang langganan tetap warung Leman. Seperti biasa Bujang akan mengangkat ikat pinggang sebelum duduk di bangku warung, mengerutkan pipi mendekati mata lalu memesan kopi pahit setengah gelas, lebih tepatnya kopi pahit satu gelas kecil. Tidak butuh waktu lama bagi istri Leman membuatnya. Setelah itu satu demi satu pelanggan warung berdatangan, berbagai gaya kedatangan mereka, ada yang datang dengan wajah cengengesan, ada yang tiba dan lansung menepuk meja. Itu sudah biasa bagi Leman dan istrinya.

            Leman akan setia menguping setiap perbincangan pelanggan, menyigi dan memutuskan di meja mana akan bergabung. Dia tidak terlalu banyak membantu istrinya, karena hasil dari warung pun tidak membantu keuangan pribadi. Begitu pikirnya. Leman menarik bangku yang tidak berapa jauh dari meja Bujang, dia mendengar Bujang sedang butuh banyak pekerja untuk menyiangi ladang. Kalau sudah perkara menyiangi ladang, tentu Bujang akan mencari janda – janda untuk dipekerjakan. Biasanya di kampung ini pekerjaan menyiangi ladang dilakoni oleh janda – janda, baik itu janda tua, kalau sedang mujur dapat janda muda yang masih kuat tenanganya. Bujang semeja dengan Leba, pria yang juga tuan tanah, Mereka berdua sama memiliki ladang yang luas.

            Mata Leman memandang jauh ke arah sudut pasar, terlihat sekumpulan wanita sedang berjalan menuju warung Leman. Perkumpulan seperti itu lazim terjadi di pasar kampung ini ketika malam kamis, entah sejak kapan tradisi seperti ini terjadi. Tidak butuh lama, salah seorang dari gerombolan janda itu datang mendekat kemeja mereka. Selebihnya menunggu di los pasar, wanita itu tanpa segan lansung duduk dengan gaya setengah merayu. Giginya menggigit bibir bagian bawah, wajah berbedak entah berapa lapis dengan dandanan menor. Wanita itu mulai menanyakan lowongan pekerjaan, dia menawar untuk kerja  berkelompok. Serikat istilah orang kampung. Wanita pencari kerja ini biasanya memiliki serikat –serikat, tidak resmi memang tapi cukup untuk membuat mereka saling membantu antara satu dan yang lainnya. Semua anggota serikat mereka berisi janda dengan berbagai latar perceraian. Ada ditinggal mati suami, ada yang meninggalkan suami, ada juga yang janda karena suami mereka tidak pulang sudah lama.

            Bujang memangggil kumpulan wanita di los pasar, mata Leman tertuju kepada seorang janda muda. Wajah yang belum dikenal Leman sebelumnya, kenapa wanita ini sampai mencari pekerjaan kasar ke kampung ini. Ketika Bujang menegosiasikan gaji pada wanita itu, Leman sedang asik menegosiasikan hati dengan pandangan. Membayang dalam pikiran seandai dia belum menikah, wanita ini tentu sangat pantas menjadi pendampingnya. Tidak seperti istrinya sekarang  sudah bermuka kasar, tidak selembut wajah janda itu. Leman memperhatikan penampilan janda itu dengan serius, mulai dari sandal jepit yang dipakai longgar, sampai kepada lipstik di bibir yang tidak begitu tebal. Kulitnya kuning lansat, mungkin kalau serikat mereka jadi bekerja di ladang Bujang, ini akan menjadi pekerjaan kasar pertama yang dilakoni janda itu. Begitu pikir Leman. Bola mata gadis itu seperti memancarkan sinar pengharapan, dia sesekali juga melirik ke wajah Leman. Dalam beberapa pandangan Leman menguyupkan bibirnya. Mengedipkan sebelah mata pada pandangan janda itu, Leman mendapat balasan serupa. Sepertinya dia juga menggoda Leman. Semoga saja Bujang, Leba dan istrinya tidak melihat tingkah lakunya. Makin lama janda itu makin menjadi-jadi, dia meraba dan mengusap-usap tengkuk sambil menguyupi bibirnya.

            “Leman!” suara itu membuat Leman terperanjat, hampir tumpah kopinya. Dari gelagat istri Leman seperti menaruh curiga melihat suaminya bermenung sambil menguyupi bibir. Pasalnya dia tahu betul tabiat Leman kalau sedang berimajinasi kotor, barangkali karna dia juga sering mendapat hal serupa ketika Leman ingin berhubungan badan.

“Sebelum matamu berwarna merah dan kerasukan” bisik istri Leman sambil menghampiri. Dia menunjuk piring dan gelas kotor yang menumpuk dalam ember. Itu bertanda waktu Leman untuk ikut duduk bersama pelanggan warung sudah usai, dia akan menghabiskan waktunya di kamar mandi atau di dapur. Habis lah waktunya malam ini untuk tetap bertahan di suasana pasar janda, pasar malam kamis. Besok dia akan sangat sibuk bekerja, karena besok hari pekan. Dari pagi sampai malam dia akan bekerja dengan becaknya, mengangkut gambir berkarung-karung ke pekan, dan juga kerumah tauke.

            Dengan raut wajah muram, Leman mengangkut ember berisi gelas dan piring kotor. Janda tadi masih menguyupkan bibirnya di mata Leman, dia tidak mau pergi. Berkukuh tetap di bayangan Leman, atau mungkin Leman sendiri yang membawa ikut dengan matanya ke sumur. Sampai di sumur bayangan bibir janda tadi semakin menjadi-jadi, dia pindah dari piring yang satu ke piring yang lain, dari gelas yang kosong ke gelas bekas ampas kopi. Leman seperti anak remaja yang sedang di mabuk cinta, mungkin akibat jarang mendapat “jatah” dari istrinya akhir-akhir ini.

            Sambil bersiul-siul kecil wajah janda tadi sesekali masih hadir, tapi sekarang dia pindah ke langit – langit dapur. Leman sedang menanti air mendidih untuk dipindahkan ke dalam termos. Bosan bersiul dia meniup salung api, memastikan kayu tetap bersilang di tungku. Dengan begitu tidak akan lama menunggu air mendidih, biar cepat pula bisa mengantar termos ke warung. Barangkali janda tadi belum pergi dari meja Bujang.

“Bruk” suara itu mengejutkan Leman, terdengar dari belakang dapur. Perasaan leman bercampur aduk, ada takut juga yang datang. Pasalnya dibelakang pasar, masih bersemak. Perlahan dia mengambil kursi dan menaiki, matanya menempel di ventilasi. Persis diatas pintu dapur, bola matanya liar berputar melihat ke atas, kesamping kiri dan kanan, ke bawah. Dia berpikir jangan – jangan ada jawi ngamuk lagi, seperti dulu pernah terjadi. Pernah juga dulu celeng menabrak dinding dapur warung, bangunan warung masih semi permanen. Kaki Leman makin lama makin bergetar, sekarang pikiran sudah sampai kepada sosok gaib. Entah itu kuntilanak, pocong, atau mungkin juga setan jenis baru. Kaki semakin menggigil melihat kain warna putih bergerak pelan. Tidak jauh dari posisi Leman mengintip, samar bias lampu dapur warung.

Leman duduk sebentar, mengumpulkan sisa keberanian. Dia mengatup-ngatupkan jari kedua tangan, pundaknya seperti menelan leher, terlihat seperti orang kediginan. Perlahan dia kembali berdiri di atas kursi, memasukkan mata perlahan ke rongga ventilasi, Leman melihat kain putih itu bergoyang tidak teratur. Dari samar bias lampu terlihat seperti tangan bergenggaman, leman memberanikan diri. Dia berpikir mendatangani sosok kain itu, turun pelan dari kursi pijakannya. Dia berjalan setengah tergesa ke samping warung, dia tidak begitu perhatian keadaan di dalam warung. Yang terlihat hanya Leba duduk di kusi teras warung, Leba sama sekali tidak menyapa Leman. Sampai di samping rumah, Leman berjalan pelan sekali. Membungkuk di jalan setapak, semak kiri dan kanan berurai ke badan jalan. Mata leman tertuju ke kain putih, dia bergerak tidak seperti di tiup angin. samar – samar terlihat sesosok lelaki berkumis, karena wajah itu menghadap ke arah bias cahaya lampu dapur warung. Satu lagi terlihat sesosok wanita yang memunggung ke arah Leman. Lelaki itu terlihat seperti Bujang, tapi masih samar. Cara membungkuk wanita yang membelakanginya seperti tubuh yang dikenalinya. Sedang apa mereka, kalau benar itu Bujang dengan istriku, pikir Leman. Tubuh laki – laki itu terlihat bersandar ke lemari usang, yang sengaja dibuang Leman ke belakang warung beberapa waktu lalu. Leman kembali melangkah pelan ke warung, dia ingin memastikan kalau itu bukan istrinya. Kalau persoalan itu Bujang atau bukan tidak penting bagi Leman, mungkin saja Bujang sedang bercumbu dengan janda yang dia perhatikan tadi.

Sampai di warung dia tidak melihat istrinya, dan bertanya pada Leba. Kata Leba istrinya sedang ke warung ujung membeli gula, Leman lansung berjalan ke warung ujung dan meninggalkan Leba dengan kebingungan. Tidak lama berselang, Leman kembali datang dengan wajah terlihat memerah. Sepertinya dia sedang marah, tapi entah kepada siapa.

“Kenapa kau “ tanya Leba makin bingung. Leman hanya diam, Leba menceritakan kalau sepeninggalnya tadi istrinya datang membawa gula pasir. Leman masih tidak tenang dan berjalan kedapur menghampiri istrinya.

“dari mana saja kau Tinah”  membentak,

“dari warung Lambiak, beli gula” istrinya terlihat santai, Leman seperti orang kesurupan membentak istrinya, menanyakan berapa lama, dengan siapa, dan berbuat apa di belakang warung. Sampai Leman duduk tersandar ke dinding dapur, dia mengusap muka dengan kedua tangannya. Leman sangat yakin kalau sepasang orang yang sedang bercumbu di belakang warung tadi adalah istrinya, tapi dia tidak ada bukti untuk menuduh. Istrinya hanya menjawab tenang seperti memang tidak terjadi apa – apa, dan mungkin saja memang tidak terjadi apa – apa. Istrinya berlalu meninggalkan Leman, karena memang bukan kali ini saja Leman menuduh yang aneh – aneh. Sudah acap kali. Mungkin istri Leman berpikir, suaminya marah karena di ganggu menikmati pemandagan indah malam tadi. Leman masih duduk selonjor dengan punggung tersandar ke dinding dapur, bayangan janda malam tadi tidak lagi datang kepada matanya. Dia menepuk – nepuk pipinya, berharap kejadian yang dia lihat dibelakang warung tadi benar –benar bukan istrinya. Penyesalan tidak memergoki lansung datang pada dirinya tiba – tiba, mudah mudahan saja teman bercumbu pria berkumis tadi salah satu janda yang sedang mencari pekerjaan di pasar  malam ini.

Comments

Size 730x120
Size 336x280
Size 730x120